Selasa, 04 Oktober 2011

Negek? Apaan sih?

Pernah denger kata "negek"? Saya aja baru denger beberapa bulan belakangan ini. Negek merupakan salah satu teknik mancing yang kata kawan saya merupakan salah satu teknik mancing asli nusantara. Berarti di negara lain belum ada.

Peralatan yang dipakai untuk mancing negek ini lumayan sederhana, pole rod (joran panjang tanpa ring dan tidak menggunakan reel) biasanya sepanjang 4.5 - 7 m. Mata kail yang unik terdiri dari beberapa kail yang dijadikan satu, biasa disebut candit atau garong. Pelampung, bisa pelampung apung maupun melayang dan tentunya tali pancing (lebih disukai yang mono).

Karena memakai mata kail garong maka para negekers sering juga disebut garongers. Ikan yang menjadi target untuk jenis mancing ini adalah ikan baronang yang hobi makan segalanya. Jadi umpan yang bisa kita pakai untuk negek biasanya lumut ijo, nasi lumat, tepung, bakwan kadang bisa juga lontong atau bakso.

Pertama kali nyoba mancing negek saya nggak sreg karena menurut saya mancing seperti ini nggak ada serunya. Tapi setelah merasakan tarikan ikan baronang jenis tompel, orang melayu batam sering menyebutnya Lebam, saya jadi ketagihan negek.

Ukuran Baronang Tompel memang berkisar antara 3 - 7 jari (rata-rata), tetapi karena saat strike menggunakan joran tegek yang panjang tarikannya mak nyussss dan lebih dahsyat daripada mancing dasaran. Kalau pendapat saya pribadi ini mungkin dikarenakan joran tegeg yang panjang sehingga momen yang timbul karena tarikan akan lebih terasa.

Garongers di Magcobar Batam, courtessy of batamfishing.com
 

Trip Mancing, Negek di Pantai Sekilak dan CPO Kabil, 02 Oct 2011

Jum'at malam saya ditelepon teman kerja, mereka ngajak turun ke tengah, tetapi karena surat ijin mancing malam hari sudah dicabut sama nyonya rumah, dengan berat hati saya menolak ajakan kawan tersebut. Padahal mereka turun pake perahu besar komplit sama GPS dan FF, bikin ngiler aja.

Cari pelampiasan sakaw mancing, akhirnya kontak suhu Rio siapa tahu ada trip negek untuk minggu siangnya. Pucuk dicinta joran pun tercelup, ternyata mas Rio sudah ada planning mau negek ke area Kabil dan sekitarnya. Berangkat...

Minggu pagi cuaca mendung, hati dah kuatir jangan-jangan hujan lebat nih. Pukul 06.00 pagi gerimis dah mulai turun, istri dah nanya "gerimis-gerimis gini juga mau turun?". Dasar dah kebelet, langsung aja saya jawab,"Kemarin aja di container kita hujan-hujanan lho, apalagi ni mas Rio ngajak pake mobil kok".

Pukul 07.00 kurang lansgung melayang ke rumah Mas Rio, gerimis dikit tak apalah. Sampai disana dah ada mobil Avanza lagi geser-geser di depan rumah, ternyata itu kawan negek juga, namanya Mas Joko. Sedianya kita mau berangkat pagi tapi ternyata kita musti ngantar nyonya mas Rio ke bandara dulu, karena beliaunya mau pulang kampung ke Medan, karena pesawat take off pukul 10.45 kita masih punya waktu untuk nyari lumut dulu. Bos Rio baru saja dibagi spot rahasia lumut di Batu Aji sama mas Serudo yang konon katanya "cukup untuk 100 garongers selama 2 tahun".

Naik mobil Avanza punya bos Joko kita ke lokasi spot lumut tersebut. Lokasinya memang lumayan dalam dan dekat dengan hutan bakau Batu Aji, sampai di spot lumut kita semua terkejut, gilaaaaaa, lumut yang kata garonger2 Batam langka di depan mata kita terhampar hampir seluas lapangan bola sepak, lumut tok. Hijau, cantik, saking happynya saya ikut turun juga ngambil lumut ke bawah nyusul Mas Rio. Baru sampai pinggir dah jatuh terpeleset hampir telungkup, anjrit.. Mas Rio memberi peringatan telat "Hati-hati ni lumutnya licin". Dah jatuh baru diingetin, hehehehhe. Akhirnya saya nerusin cari lumut dengan kaki telanjang. Selesai nyari lumut yang dirasa cukup kita cuci bentar, terus balik kerumah.

Saya dan Mas Rio lagi nyuci lumut
Sampai rumah Bos Rio kita dah dibikinin segelas kopi jahe anget yang maknyuss. Pukul 09.30 kita berangkat dari rumah menuju ke bandara, tetapi karena kita butuh guide untuk lokasi negek di Kabil kita musti nyulik dedengkot garong yang paham betul lokasi sana yaitu Mas Adhie. Memang ada semboyan garongers yang musti kita galakkan,"Ajakan ke tengah bisa nolak, ajakan negek? Jangan harap!". hehehehehe

Singkat cerita, daripada nanti kelamaan. Kita dah selesai ngantar istri Mas Rio ke bandara terus lanjut ke spot negek pertama di Kampung Melayu, Sekilak. Di gate depan ada yang jaga cewek 2 orang, dari jauh yang satu lumayan manis, tapi pas dia ngomong alamaaakk, giginya nggak nahan, sepanjang jalan masuk ke pantai cewek ini aja yang kita omongin jadi bahan candaan. Sampi di spot saya yang paling gatel pengen turun duluan, maklum pemula. Kalo suhu-suhu yang lain nengok2 kondisi lokasi dulu. Kondisi air jernih, dasar laut tampak, ikan berenang pun nampak, pertama keliatan cuma ikan-ikan tak jelas yang bukan target. Tapi kemudian muncul sekelebat bayangan si tompel kuning. Tabur sesajen, terus pantengin, pelampung punya saya getar, tapi agak lemah, pikir hati paling grandong, tapi nggak apalah grandong pun jadi, joran saya gentak, ternyata ada perlawanan turun naek-turun naek, ikan naik keatas ternyata baronang tompel ukuran 4-5 jari.
Tompel pecah telur saya di Sekilak

Mas Adhie dan tompelnya di Sekilak

Setelah itu frenzy di Sekilak dimulai, masing-masing garonger mulai narik ikannya masing2. Pokoknya ngomset, total perolehan, saya 2 ekor tompel, suhu Rio 6 ekor tompel, mas Adhie 1 ekor tompel, mas Joko ada naek nggak ya?. Setelah beberapa lama, air pasang penuh, lautan seperti kolam, tak ada gelombang sama sekali, karena jam sudah menunjukkan pukul 13.00 lebih dan ikan mulai sepi akhirnya kita memutuskan untuk cabut sekalian nyari makan siang dulu.

Mejeng habis makan siang, saya, mas Adhie, Mas Joko

Mejeng habis makan siang, Bos Rio dan Mas Joko

Sehabis makan siang kita melanjutkan perjalanan ke CPO Kabil, sampai di lokasi sekitar pukul 14.00 lebih, air pasang tinggi, jernih, tak ada yang negek tapi yang casting lumayan banyak, mereka juga sudah naik ikan yang lumayan besar. Tabur sesajen sana-sini, tak ada penampakan ataupun serangan, di CPO, saya sendiri sempat pindah lokasi sampai lebih 5 kali karena sepi. Lihat ke air ikan nampak berenang, karena dah stress mungkin, saya ikut nyemplung masuk ke laut.

Berendam beberapa waktu, main-main sama ikan tiba-tiba bos Rio strike, tompel 6 jarian di daerah tiang beton dekat tongkang parkir. Kita semua blingsatan kemudian sayapun merapatkan barisan. Air sudah mulai surut, di bawah tiang beton nampak babon-babon tompel sedang berpatroli bikin kita ngiler habis. 4 tegek berkumpul jadi satu, celup langsung gundul, celup langsung gundul. Ni tompel-tompel lagi kelaparan nih. Rame betul di bawah.

Garong saya celup, pelampung di bawah hampir dekat permukaan air, garong saya kena serangan, karena nggak diletak, getaran ikan makan terasa sampai ketangan, gila... Saya naikkan keatas dikit masih terlihat gerakan pelampung persis seperti jarum mesin jahit. Tak tunggu lama, joran saya gentak, tuh ikan kesangkut garong, biasa di sini kalo gentakan tak kena ujung joran kena ke beton jembatan. Tapi yang ini lain, joran persis seperti tersangkut dibawah, tahu-tahu ikan berlari ke arah kolong beton, mati.. Saya coba tahan, bawa dia keluar dari kolong, dia narik lagi kedalam, saya tarik keluar lagi, kali ini dia malah lari ke arah berlawanan. Ujung joran saya meliuk-liuk mengikuti tarikan ikan, karena 3 tegek jadi satu di area situ, ni ikan mbelit-mbelit benang punya Mas Joko, setelah beberapa menit akhirnya tompel menyerah kemudian melayang. Mas Joko teriak,"Nyangkut cuma dikit, awas lepas" Joran pun saya lempar ke arah tongkang di belakang saya.

Inilah kali pertama saya ngangkat tompel dengan tarikan seperti ini, nglepas pancing masih tremor, berasa deg-degan, gila. Mas Joko dah teriak-teriak,"Cepetan, frenzynya keburu ilang" Kalo saya cuma senyum-senyum aja,"Aku pur deh". Heheheheh wong dah naek babon kok. Setelah itu frenzy pun makin rame, total jendral kita naik mungkin lebih dari 10 ekor di spot ini.

Jam 18.00 sore hari dah mulai gelap, lumut pun hampir habis, gila, negek sampai kehabisan lumut. Kita pun memutuskan untuk pulang. Di perjalanan pulang mas Adhie sama mas Joko saling bercandaan terus. Kalo kata orang melayu pasangan tak cocok kalo mancing. Sampe rumah mas Adhie kita photo-photo ikan untuk bukti terus cabut pulang. Sekian dulu deh reportnya, yang terpenting hari itu saya sudah dinyataka lulus oleh suhu Rio dengan predikat cum laude. Sekarang tinggal explore tempat dan bisa berangkat negek sendiri.

Total hasil negek, mantapppp

Kamis, 29 September 2011

Apakah System Perpipaan di Kapal Termasuk Piping Process?

Lagi kepengen ngomong soal pipa. Ini murni pendapat pribadi jadi kalo nggak setuju atau sepaham tinggal dikomen aja.

Kita semua tahu bahwa biasanya piping system yang ada di refineries, petrochemical, pabrik kimia, pabrik kertas dll menggunakan acuan ASME B31.3 Process Piping dalam design dan executionnya. Ini dikarenakan piping system yang ada di tempat-tempat tersebut diatas dikategorikan sebagai suatu proses.


Menurut thefreedictionary.com dan answer.com piping process didefinisikan sebagai "an industrial facility, pipework whose function is to convey the materials used for the manufacturing processes". Halah, buat saya pribadi ini terlalu general karena jika memakai pengertian tersebut tentunya semua system perpipaan akan kena. Termasuk juga piping system yang ada di galangan atau juga piping facility yang ada di pabrik-pabrik.

Saya bukan orang process tapi kalau menurut logika saya sesuatu dikatakan mengalami proses jika terjadi perubahan sifat pada saat sebelum dan setelah mengalami proses tersebut. Minyak mentah masuk refineries keluar jadi resin, nafta, bensin dll. Jelas sifat-sifatnya telah berubah. Kalo fluid yang masuk ke piping system kemudian output sifat-sifatnya tidak mengalami perubahan baik physic atau chemical, maka bisa dianggap tidak terjadi proses apapun di dalam piping system tersebut.

Memakai dasar logika diatas saya berpendapat bahwa piping system yang ada di kapal bukan suatu piping process, karena fungsi utama mayoritas piping system tersebut adalah "hanya" untuk mentransfer fluid yang diinginkan tanpa mengubah karakteristik fluidanya. 

Selasa, 27 September 2011

Trip Mancing, Tanker Parkir Jembatan 6

Minggu pagi ngetrip ke laut lepas setelah hampir 2 bulan nggak turun. Dari sebelum bulan puasa memang belum pernah turun ke tengah lagi. Janjian sama Mas Rio jam setengah 6 dia ke rumah titip motor karena rencana mau turun ke jembatan 6 naek mobil.

Jam 6 nunggu mobil jemputan di halte bis dekat Unrika, mobil datang langsung berangkat ke arah jembatan barelang. Karena umpan belum ada kita mampir dulu ke kampung tua Tanjung Gundap untuk ngambil udang segar.

Udang segar ditangan, kendaraan langsung tancap gas ke arah Pelantar Pari. Sampai di sana jam 8-an, turun langsung menuju spot pertama di daerah Sebanga dekat tanker parkir dua biji. Tekong bilang acaranya nyelar dulu jadi pertama turun langsung pake Sabiki nomor 12.

Pertama turun pake Shimano Basstera GS, reel FX4000, turun sampai bawah langsung ada serangan. Tarik-tarik ke atas selar nempel. Habis itu turun, bandul nyentuh bawah kena lagi. Rame, tapi pake reel ini agak susah mau nyelar, lirak-lirik, bos Rio nawari udah pake punyaku aja.

Mantap nih baru sekali ini nyoba overhead reel, nyoba pertama kali agak repot, karena posisi lever pemutar ada di sebelah kanan sehingga joran musti dipegang pake tangan kiri. Jepit joran diketiak, tangan kanan pegang wheel, acara ngotrek selar pun makin seru. Sayang nggak sempat ngambil photo, besok-besok lagi kalau turun musti diingetin untuk dijepret-jepret, lumayan buat kenang-kenangan.

Overhead Reel Shimano Calcutta

Selasa, 13 September 2011

Trip Mancing, Negek di Pelabuhan Container

Selama bulan puasa kemarin sama sekali nggak turun mancing, akhirnya kemarin ada kesempatan lagi nyelup joran. Sedianya malam minggu tanggal 10 September diajak turun ke Pulau Tungkil tetapi karena ada kerjaan akhirnya nggak jadi ikut.

Sebagai pengobat sakaw mancing akhirnya kontak Suhu RIO (guru negek saya) supaya diajak trip negek ke Pelabuhan Container di Batu Ampar. Berangkat dari Batu Aji jam setengah tujuh sampai lokasi ternyata dah rame garonger Batam disana.

Maklum karena masih pemula kawan2 lain duluan yang narik, saat lagi asyik melihat pelampung sambil merokok, tahu ada getaran di pelampung, kawan di sebelah mengingatkan. Gentak akhirnya nyangkut, angkat pake satu tangan, eh ikannya melawan, joran tegek Maguro saya melengkung, langsung ambil posisi siaga berdiri, sambil jantung berdebar-debar saya bawa ikan ke arah kiri perlahan2, terus sentak ke atas ikan pun melayang ke belakang.

Suhu langsung teriak, woi pecah telur harus diphoto dulu. Karena kita nggak ada hape berkamera (maklum orang miskin) Suhu RIO yang ngambil gambar pake hp beliau. Lumayan baronang tompel ukuran 5 jari sebagai pemecah telur saya setelah hampir dua bulan belajar negek.

Baronang Tompel, Pelabuhan Container Batu Ampar