Tampilkan postingan dengan label celoteh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label celoteh. Tampilkan semua postingan

Selasa, 31 Maret 2015

Seri Somplak dan Jancuk - Kenaikan BBM

Hari Selasa yang agak mendung, Jam 10.00 Pagi, saatnya coffe time untuk pekerja-pekerja di sebuah fabrikasi di Batam. Dua orang kawan sedang menyeruput kopi Latte hasil bikinan mesin yang disediain sama kumpeni tempat mereka bekerja.

Jancuk: Napa? Kok mukamu burem gitu, dah monyong tambah ancur tu muka.

Somplak: Ki lho Cuk, aku puyeng mikir BBM naik lagi, semalam ngisi si Ceria kaget juga ternyata sekarang Premium Rp.7.300/liter, perasaan di tipi nggak ada pengumuman apa-apa, isinya Olga semua.

Jancuk: Gayamu Plak, ngrokok Surya 16 masih kuat, BBM mundak berapa ratus rupiah ae kaget.

Somplak: Matamu Cuk, aku ra ngrokok ra po po, kalau nggak ada bensin yo nggak iso mangkat kerjo. Bentar lagi harga barang pasti naek kabeh. Pasti ujung-ujungnya ongkos sewa tekong naik juga. Kan susah juga kalau mau mancing.

Jancuk: Prett, jare gaji wis dua digit, mosok sih gara-gara BBM naek segitu, ndak iso mancing meneh. Lebay koen iku.

Somplak: Lebay ndasmu, mbok kiro kabeh wong kayak kita? Awakmu ndak mikirno helper-helper yang gajinya ngepas sama UMK yo? Banyakan engineer kayak kita atau helper kayak mereka. Kita mungkin nggak berasa lha buat mereka-mereka itu opo nggak merem melek? Nanti ujung-ujungnya tambah banyak begal di jalan-jalan.

Jancuk: Halah, sok mikir negoro, palingan awakmu nggak bisa moved on. Gara-gara nggak seneng aja sama Pak Jokowi, dulu ndukung Pak Prabowo kan? Apapun kebijakan yang dibuat Pemerintah pasti kontra, nggak ada bagusnya. Coba kalau Pak Prabowo yang jadi Presiden pasti ndak bakalan awakmu ngomong gitu.

Somplak: Tambah retak ndasmu. Ndisik awakmu tau kepleset ning kamar mandi nggak konangan yo? Ini sudah ndak ada hubungannya lagi sama Jokowi vs Prabowo, itu sudah basi, wis lewat. Sekarang ini masalah antara Presiden/Pemerintah dan Rakyatnya, siapapun presidennya, titik. Aku ndak ada sentimen pribadi sama personalnya, tapi keputusan yang dibuat ki lho, disitu saya merasa jiiaancukkkk..

Jancuk: Wis ta lah, kita ikuti aja keputusan pemerintah toh kita juga bisanya omong tok, anggep aja pengorbanan kecil buat negara. Yang penting ikhlas, semoga menjadi barokah. Kan subsidi BBM dialihkan untuk yang lainnya. Lah po kowe aja yang jadi Presiden? Kok ketoke koyo iso wae, sok keminter nglebihi tim ahlinya pemerintah.

Somplak: Matamu. Lha awake dewe iki nggawe gambar topside wae sek sering salah kok ngimpi jadi presiden? Yen masalah ikhlas, InshaAllah aku nggak ikhlas. Lha APBN itu kan salah satu sumber utamanya dari Pajak, awakmu jangan-jangan belum nglapor SPT Tahunan yo? Itu juga pengorbanan. Makanya aku sering sesak napas kalau nengok mobil plat merah ketemu di Nagoya Hill atau Pantai Mirota. Juancuukkk pollll. Opo maneh ngelihat photo selfie aparat lagi studi banding piknik ke luar negeri.

Jancuk: Halah, palingan awakmu juga asline kepengen, tapi karena nggak iso, yo cuma komplain aja. Coba kalau awakmu yang jadi pegawai negeri terus disuruh studi banding ke luar negeri pasti langsung berangkat juga.

Somplak: Jiancukk, moga-moga wae awakku masih dikasih hati nurani sama Gusti Allah. Dah kerja lagi sana, lama-lama ngliat mukamu kok tambah emosi aku. Suwe-suwe tak sawat Iphone juga ngko.


Mohon maaf, kejadian diatas adalah fiktif belaka, dialog diatas sebenarnya adalah monolog antara saya dan alter ego saya yang mungkin sudah tak tertahankan lagi untuk dikeluarkan. Meskipun Simbok (Ibu) saya selalu mengajarkan saya untuk “ojo nggresulo” (jangan mengeluh), karena mengeluh mungkin sangat dekat dengan rasa ketidak bersyukuran kita terhadap apa yang sudah diberi oleh Gusti Allah. Tapi apa mau dikata, kali ini sakitnya tuh benar-benar disini.  

Selasa, 11 September 2012

Hati-hati dengan luka kecil..

Luka kecil sering dianggap sepele oleh beberapa orang, termasuk saya. Hehehehe.

Hari Sabtu minggu lalu saya sekeluarga dan rekan kerja piknik ke Pantai Pelawan, kalau saya dan rekan saya pengennya mancing. Acara lain, bakar-bakar sate dan mandi aja. Kapan-kapan saya upload photo-photonya di blog.

Bukan pikniknya yang pengen saya ceritakan kali ini. Waktu piknik kemarin, kaki saya tergores tangga di pantai pelawan. Saya juga heran tangga kok bisa tajem gitu. Terantuk pelan saja, langsung luka sepanjang 5 cm. Karena saya pikir cuma luka gores, akhirnya saya biarkan saja.

Hari minggu dengan PDnya acara piknik dilanjut lagi, kali ini saya sekeluarga mancing di tepi laut. Ikan kecil-kecil aja yang naik, sekitar 5 ekor. Hari Senin saya berangkat kerja seperti biasa, luka saya yang kebetulan di atas telapak kaki dengan terpaksa saya tutup safety shoes. Nggak terasa sakit. Seharian bekerja seperti biasa.

Hari selasa pagi, entah kenapa badan saya mulai demam, selera makan pun menghilang. Di lipatan paha saya muncul benjolan kecil yang nyeri sekali. Selama pagi hari ini saya berjalan terpincang-pincang. Setelah makan, dengan maksud mencari obat demam atau cuma vitamin aja, saya berangkat ke klinik perusahaan.

Di klinik, keluhan saya cuma demam dan meriang, tanpa batuk dan pilek. Saya pikir, mumpung masih tahap ringan, kalau demamnya bisa diobati pasti cepat sembuh dan nggak sampai parah. Giliran dicheck fisik sama dokter, ada satu pertanyaan yang membuat saya kaget. "Bapak cuma demam saja, punya benjolan disertai rasa nyeri nggak di leher, ketiak atau lipatan paha?". "Punya pak di lipatan paha kaki kiri" jawab saya. "Coba dibuka kaki kirinya" kata dokter.

Yang dibuka kaki kiri lho ya. Bukan lipatan pahanya. Dan ternyata, luka gores kecil saya tadi sudah bengkak dan bernanah. Dokter bilang luka saya infeksi dan kalau nggak ditangani serius bisa berlanjut ke infeksi akut. Alamak, saya langsung kebayang amputasi.

Jadi, jangan remehkan luka kecil, kalau luka tadi disertai rasa nyeri di daerah leher, ketiak atau lipatan paha. Mungkin luka anda mengalami infeksi.
 

Jumat, 06 Juli 2012

Dilemma berbahasa Inggris di tempat kerja

Pagi ini sehabis toolbox talk ada seorang bapak-bapak yang agak berumur mengajak berdiskusi. Beliau bercerita kalau sebelumnya di perusahaan yang lama (perusahaan EPC PMDN yang lumayan terkenal) beliau mempunyai posisi sebagai piping supervisor tetapi sekarang di perusahaan ini beliau bekerja sebagai pipe fitter.

Saya pun bertanya,”Kok bisa Pak? Kenapa nggak melamar untuk posisi yang sama?”. Beliau menjawab,”Saya nggak bisa bahasa Inggris Mas”. Dan Saya pun terdiam. Pembicaraan kami pun dilanjutkan dengan membahas berbagai masalah perpipaan seperti drawing, material sampai ke masalah etika kerja. Dan menurut pendapat Saya pribadi, sebenarnya Bapak ini memang punya kemampuan untuk jadi Piping Supervisor. Alangkah sayangnya.

Pengalaman yang sama pernah Saya alami sebelumnya di perusahaan yang lama. Saya punya satu orang rekan engineer yang secara kinerja dan kemampuan sebenarnya tidak kalah dengan anak buah saya yang expatriate. Tapi karena keterbatasan berbahasa tadi membuat dia kesulitan untuk lebih berkembang. Beberapa kali saya tawari job offer di tempat lain, dia selalu menolak dengan alasan bahasa tadi. Sampai yang terakhir sebelum saya keluar saya tawarkan untuk naik ke posisi management pun dia tidak berani untuk mengambilnya.

Masalah klasik ini memang seakan menjadi dilemma untuk kebanyakan orang. Ketidak mampuan berbahasa asing (baca: bahasa Inggris) membatasi kesempatan untuk berkarir ke jenjang lebih tinggi dan terkadang juga kesempatan memperoleh pekerjaan yang lebih bagus. Beruntung bagi beberapa orang yang memang sengaja mempersiapkan diri untuk bekerja di lingkungan multinational.
Dalam dunia kerja bahasa memang penting karena salah satu hal yang paling dibutuhkan dalam bekerja adalah kemampuan untuk berkomunikasi. Contoh: ada seorang pekerja, ketika ditanya oleh atasannya tentang suatu masalah dia hanya terdiam, bukan karena tidak tahu permasalahannya ataupun solusinya tetapi lebih dikarenakan ketidakmampuan untuk mengungkapkan/mengkomunikasikan hal tersebut karena keterbatasan bahasa.
Peluang inilah yang disambut baik oleh pekerja-pekerja dari Negara lain (pinoy, bangla dst). Mereka tidak selalu lebih mampu ataupun pintar dari kita, tetapi mereka bisa berkomunikasi dengan lancar.
Pertanyaan yang sering timbul di benak saya adalah: kita bekerja di Indonesia, digaji dengan mata uang rupiah kenapa musti kita bekerja dengan bahasa formal menggunakan bahasa Inggris? Menurut pemikiran saya penyebabnya : 
  1. Karena mereka pemilik modal alias yang punya uang.
  2. Kelemahan regulasi dan aplikasinya di Negara kita. Coba kita seperti Jepang yang mewajibkan semua pekerja asingnya untuk mempelajari bahasa dan budaya mereka sebelum bekerja di Negara mereka.
Dengan kondisi diatas, (maaf) untuk saat ini kita belum bisa menjadi tuan di Negara sendiri. Kita masih hidup dalam penjajahan dengan wajah baru. Dan saya pribadi juga termasuk salah satu orang jajahan tersebut.  

Rabu, 04 Juli 2012

Bensin di Karimun 1 Liter = Rp. 20.000,-

Ini pengalaman pertama saya harus meninggalkan motor kesayangan di PT. Sebelumnya memang pernah motor saya tinggal di PT waktu di Batam, tapi itu karena tidak sengaja alias ketinggalan. Tetapi untuk kali ini, motor memang sengaja saya tinggal di parkiran perusahaan karena tak ada bensinnya. Hahahahahaha.

Karimun memang pulau yang relatif kecil bila dibandingkan Batam ataupun Bintan. Setahu saya di sini cuma ada 1 SPBU Pertamina dan 1 SPBU swasta yang sering disebut Kuda Laut (???). Jadi kalau di Karimun pemandangan kios-kios BBM mini bertebaran sepanjang jalan itu hal yang lumrah. Mungkin hampir tiap 50 meter kita bisa menemukan kios-kios BBM ini.

Kemarin pagi saya memang berangkat dengan "cadangan" bensin yang mepet di tanki motor. Harapan saya, nanti bisa beli bensin di salah satu kios BBM yang ada di sepanjang jalan waktu berangkat kerja. Berangkat seperti biasa, sepanjang jalan saya melihat semua kios-kios BBM tutup alias kehabisan bensin. Mulai dari Teluk Air hingga PN terus ke lokasi perusahaan di Pangke saya tidak menemukan satu pun kios yang menjual bensin.

Motor saya sekarat sebelum sampai di PT (sesuai prediksi) dan akhirnya persis di dekat bandara PN motor saya mulai ngadat. Motor tetap jalan meskipun dengan bensin campur (campur dorong maksudnya, hehehehe). Sampai di depan lapangan bola, ada satu kios yang melayani pembeli bensin. Hati dah bahagia, penderitaan bakalan terhenti. Ternyata bensin tadi adalah botol terakhir yang tersisa an sudah keduluan orang pula. Hahahahaha.

Dengan memasang muka memelas, saya sukses membujuk Ibu2 penjual bensin untuk menguras cadangan bensinnya. Betul-betul menguras karena drum bensin punya beliau ditunggingkan dan saya cuma mendapat bensin kira-kira 1 gelas. Cukup untuk sampe PT ini, pikir saya. Dan memang cukup tapi akibatnya saat pulang motor sudah tidak bisa dinyalain lagi.

Motor saya tinggal, pulangnya nebeng kawan. Nasib yang kita alami pun sama. Dari jalur Pangke-Meral-Balai tak ada satupun kios BBM yang buka. Beruntung bensin masih cukup sampai dirumah. Malam harinya saya berburu bensin (dengan jalan kaki tentunya). Dapat sebuah kios yang katanya punya stock bensin (atau dia nimbun ya??). Sampai di kios tersebut saya agak shock juga. Bensin dengan kemasan botol 1 Ltr yang biasanya dijual Rp. 5.000 dia jual dengan harga Rp. 20.000. Jadi berasa tinggal di Natuna atau Lamalera (hahahaha).

Entah kenapa di Karimun bisa kejadian seperti ini. Karena stock terlambat kah? atau premium dibatasi oleh pertamina? atau jangan-jangan ada oknum yang bermain? Apapun ceritanya, inilah kali pertama saya nggak bisa kemana-mana karena bensin nggak ada. Padahal katanya Karimun merupakan kawasan seigita emas BBK yang dijagokan untuk investasi asing. Tapi masalah klasik seperti langkanya BBM masih juga terjadi.

NB: ini kali kedua saya mengalami kelangkaan BBM di Karimun sejak pindah dari Batam 2 bulan lalu.

Update 05 Jul 12: Kemarin sore beli bensin botol kemasan 1.5 Ltr seharga Rp. 14.000,- Alhamdulillah sudah turun.

Rabu, 06 Juni 2012

Saya dan Butawarna

Dah lama banget saya ndak update di blog ini. Mungkin karena kesibukan kerja sehari-hari, tak terasa sudah hampir 3 bulan saya nggak pernah mampir lagi di ini. Untuk kesempatan ini saya pengen ngejunk soal pengalaman pribadi aja lah.

Dulu banyak teman-teman saya yang sering bertanya, "Ngapain jauh-jauh cari kerja di Batam? Apa di Jawa nggak ada kerjaan lagi?" Hehehehehe. Kebetulan saya dulu kuliah di Jurusan Teknik Mesin salah satu PTN di Semarang (UNDIP), yang memang alumninya lebih banyak masuk ke BUMN dan industri manufaktur di bidang otomotif (TAM, Indomobil dll).

Sebenarnya saya pengen juga kerja bareng mereka. Tapi kehendak-Nya berkata lain. Saya dilahirkan dengan cacat mata bawaan yaitu butawarna parsial. Tentu saja saya akan mengalami kesulitan untuk bisa masuk ke perusahaan-perusahaan yang saya sebutkan diatas, karena biasanya seleksi med check-upnya cukup "ketat".

Banyak yang mungkin masih kurang paham dengan "anugerah" yang bernama butawarna parsial ini. Sering teman-teman bertanya, "Kalau gitu berarti dunia serasa hitam putih dong?" Yang biasanya langsung dilanjutkan dengan "mengetes" saya, biasanya sih dengan menanyakan berbagai warna yang ada di sekeliling kami. Hahahahahaha.

Butawarna parsial tidak separah itu. Kami, para penderita butawarna partial, masih bisa membedakan warna-warna yang ada, rumput masih berwarna hijau dan langit pun masih berwarna biru. Pada saat saya kecil saya sama sekali tidak menyadari kalau saya ini butawarna. Karena dulu saya masih bisa merakit peralatan elektronik saat praktikum di SMP, menghitung hambatan di gelang resistor dan juga tidak pernah bertengkar dengan kawan-kawan yang lain soal warna.

Penyakit ini (kalau tidak salah, karena saya orang teknik bukan kedokteran, hahahahaha) disebut juga RGD (Red Green Deficiencies). Jadi dari namanya saja kita bisa menebak kalau penyakit ini lebih erat dengan warna merah dan hijau. Contohnya kalau ada warna dengan latar belakang majoritas warna hijau maka warna merah akan kalah atau sebaliknya.

Tetapi ketika warna ini berdiri sendiri tentu akan lain ceritanya. Karena itu, cacat bawaan ini cuma bisa ditest dengan cara yang saya sebutkan diatas. Biasanya sih menggunakan ICBT (Ishihara Color Blind Test). Saat ditest dengan ICBT, beberapa angka dalam lembar soal test tidak akan kelihatan untuk kami, atau terkadang dari dua digit angka cuma keliatan satu digit saja.

Kembali ke pengalaman saya, saya baru mengetahui kalau saya butawarna pada saat registrasi ulang di perguruan tinggi. Tetapi karena kebijakan PTN saya waktu itu bahwa untuk jurusan yang saya pilih mengijinkan butawarna parsial, akhirnya saya meneruskan kuliah sampai lulus.

Setelah lulus, barulah saya merasakan efek dari cacat bawaan ini, berkali-kali saya interview di perusahaan-perusahaan besar selalu gagal di medical check up dengan alasan butawarna. Padahal biasanya untuk tahapan interview sebagian besar lolos. Itulah sebenarnya alasan terbesar kenapa saya bisa terlempar ke Batam.

Pernahkah saya menyesal mendapat "anugerah" ini? Ya, dulu sekali waktu masih fresh-freshnya lulus dan baru cari kerja. Salah satu perusahaan pertama yang menerima saya adalah sebuah perusahaan manufaktur garment terbesar di Indonesia. Pada saat itu saya telah "diterima", semua proses test dan interview sudah pass.

Di hari terakhir, kebetulan waktu itu hari Sabtu, pihak HRD mengatakan, "selamat Bapak diterima, besok rabu tolong datang lagi untuk sign contract". Senangnya hati, pada saat itu saya mendapat salary yang lumayan besar untuk ukuran di sana. Tetapi sebelum pulang saya diminta mampir ke klinik perusahaan dulu untuk dicheck. Dan akhirnya, gagallah saya join kesana karena butawarna. Sepanjang perjalanan pulang saya kecewa, kesal, marah dsb.

Sejak kejadian tersebut, kegagalan demi kegagalan di proses medical check up terus saya alami. Tapi saya tidak menyesal ataupun kecewa seperti pengalaman yang pertama dulu. Sampai akhirnya saya diterima di salah satu perusahaan shipyard terbesar di Batam (tanpa medical check up tentu saja).

Ternyata di Batam, peluang masih terbuka lebar, experience dan kemampuan lebih dihargai. Dan tentu saja nggak pernah bermasalah dengan butawarna. Alhamdulillah sekarang sudah tahun ke-5 saya di Batam. Bukan di Batam langsung tepatnya karena bulan lalu saya baru join dengan salah satu perusahaan EPC (yang katanya terbesar) di Karimun. Ada test butawarna, tapi entah kenapa kok bisa masuk juga :).

Rabu, 07 Maret 2012

Pengalaman yang sangat bagus

Share cerita dari seseorang yang sangat bagus, beberapa hari lalu diposting di Milis Migas Indonesia.

Bus maut sumber kencono, Karunia bakti dan sekelebatan metro mini di hadapan saya yang lewat tanpa lampu rem mengingatkan pengalaman beberapa tahun lalu ketika diri ini masih jadi pengusaha kelas pinggiran yang penasaran mengapa sebuah Pick Up kecil saya yang di pergunakan sehari hari untuk mengangkut benda ringan macam Styrofoam harus menjalani uji petik atau KIR dengan biaya yang semestinya tertera Rp 48 ribu rupiah namun kenyataannya supir saya selalu meminta uang sejumlah Rp 160 ribu untuk setiap enam bulan uji KIR.

Dalam tiga semester uji KIR, menurut aturan, buku KIR sudah harus diganti dan saya berkeinginan untuk mengurusnya sendiri tanpa melibatkan supir. Bukannya tak percaya pada supir saya sendiri tapi keingin tahuan kenaikan jumlah biaya hingga empat ratus persen itu dari mana asalnya.

Kamis pagi, Kantor uji KIR di Jagakarsa pukul Sembilan lambat laun mulai diramaikan oleh beberapa kendaraan yang hendak menguji kelayakan mereka. Saya membawa pick up biru yang saya gunakan sehari-hari untuk usaha toko yang saya beli dari sebuah dealer dalam kondisi baru. Didepan jalan gerbang masuk dua petugas dan satu berpakaian biasa menghampiri dan bertanya.

“ Mobil ini siapa yang bawa?” Tanya petugas berkumis tebal.

“ Loh..memangnya saya nggak kelihatan, mobil ini kan saya yang kendarai!” jawab saya polos sambil tersenyum.

“ Maksudnya mobil ini biasa KIR sama siapa, siapa yang bawa, Nitipnya sama siapa?” si petugas menukas dengan nada meninggi.

“ Saya bilang saya manusia yang kelihatan, ini mobil saya yang bawa, mau uji KIR,” jawab saya tenang.

“ Jadi mau urus sendiri?” Dia bertanya, saya mengangguk yang diikuti dengan suara tertawa terbahak bahak , sambil dirinya meninggalkan saya.

“Tunggu aja sampai seminggu pak, baru beres..,” Ia membalik badan ketika beberapa langkah meninggalkan pick up saya, sambil terus tertawa.

“ Nggak apa apa , sebulan saya juga tunggu kok , saya lagi banyak waktu,”sahut saya padanya lalu saya lajukan mobil memasuki gerbang dengan loket disisi kanan.

Untuk biaya masuk, tarif tiga ribu rupiah berubah menjadi lima ribu rupiah sesuai permintaan petugas loket tanpa kembalian, It’s Ok lah, mungkin yang di gardu butuh merokok atau kopi pagi.

Sampai di dalam urutan lajur pengujian KIR mobil saya dihentikan dan kembali ditanyakan siapa yang akan membawa mobil. Dengan jawaban persis sama dengan sewaktu diluar, dahi petugas ini berkernyit tak yakin, kemudian bergegas ia menyambar buku KIR saya dan menyatakan bahwa buku KIR saya harus diganti baru dengan jumlah biaya yang disebutkan olehnya sebesar delapan puluh ribu rupiah dibayar dikantor setelah KIR.

Dibalik punggungnya saya membaca tulisan besar di dinding ruang Uji petik “ BUKU KIR TIDAK DIPUNGUT BIAYA”. Suatu paradoks pertama di pagi hari yang saya temui.

Ia menghilang dari hadapan saya dengan membawa buku KIR yang sudah harus diganti baru. “ Nanti urus didalam pak!” itu kalimat terakhirnya sebelum ia menghilang ke dalam kantor.

Lorong pengujian terhampar didepan saya hanya berisi satu mobil , sebuah pick up hitam sejenis yang melaju hanya dalam hitungan masing-masing di bawah dua menit dalam setiap perhentian. Diperhentian pertama adalah tempat lampu-lampu serta berbagai atribut keselamatan kendaraan di uji apakah berfungsi. Ada satu petugas berdiri di damping alat uji yang tanpa melihat kekendaraan hanya mengisi formulir dan menanda tanganinya untuk kemudian mempersilahkan pick up hitam di depan saya itu melaju ke pos uji berikutnya untuk melanjutkan ke pos pengecekan ban, fungsi rem dan fungsi mekanis lainnya. Kurang dari dua menit pick up itu kembali melaju dan mendapatkan form bertanda tangan tanpa perlu menginjak apalagi menguji rem di pos tersebut. Singkat, hemat waktu dan tak perlu antri panjang, sebuah efisiensi dalam tanda Tanya.

Kendaraan saya diminta maju ke pos pertama dan disana saya hentikan pick up saya dengan perlahan lalu menyalakan semua lampu mulai dari lampu utama, sign,lampu kabin, lampu malam menginjak rem dan sebagainya tanpa diminta. Tak sedetikpun wajah petugas menoleh ke pick up saya dan tak lama ia menyodorkan lembar kertas berisi tanda tangan tanda lolos uji seraya meminta uang lima belas ribu rupiah dan mempersilahkan jalan.

“ Untuk apa pak?” Tanya saya.

Ia terkejut lalu menarik kembali kertas tersebut.

“Memang harus begitu, bayar lima belas ribu!” tukasnya

“ Mobil saya belum di uji atau dilihat pak, kok saya harus bayar?”

“ Sudah lolos, bayar saja..banyak yang nunggu!” ia berusaha mempersingkat percakapan namun keukekuh menanti lembaran rupiah.

“Ok, ini saya bayar tapi mohon kuitansinya pak!” pinta saya.

“ Nggak ada , mau anda apa sih?” tanyanya

“ Mau uji KIR!” “ Jadi mau ditest betulan?”

“ Ya iya, saya jauh datang kesini untuk pastikan mobil saya di uji,” jawab saya.

“ Kalau nggak lulus tahu sendiri ya, di kasih yang gampang malah cari susah!” jawaban aneh bagi saya ketika itu yang terucap dari seorang petugas Negara yang bertanggung jawab memastikan kendaraan saya membahayakan atau tidak untuk orang lain di jalan raya sana.

Ia berteriak ke beberapa orang di lajur berikutnya.

“ Hoooi,… ini orang mau di uji mobilnya, test yang komplit jangan ada yang lewat!” Perintahnya pada beberapa orang yang semula hanya duduk membaca Koran.

Satu persatu bagian mobil diperiksa oleh mereka, hanya saja mungkin tak seteliti dealer resmi mobil yang sehari sebelumnya saya kunjungi untuk memastikan semua fungsi kendaraan saya dalam kondisi yang prima. Saya tak pernah melewatkan waktu pengecekan berkala ke bengkel resmi meski itu hanya untuk sebuah Pick up untuk usaha.

Tak ada satupun kekurangan yang bisa mereka temukan hingga si petugas pemegang kertas menghampiri saya dan tetap meminta uang untuk menyatakan mobil saya lolos uji.

“ Saya bayar semua kan nanti di loket pak, disini tertulis tidak ada pungutan apapun selama mobil di uji!” ucap saya.

Kertas dilempar ke dashboard dan mobil saya di tepuk untuk lekas pergi, bagai mengusir seekor ayam ia bersungut sungut sambil meneriakkan kepada petugas di pos setelahnya bahwa saya tak mau bayar dan minta di uji.

Di pos kedua setali tiga uang, petugas tak berkeinginan memeriksa mobil saya berikut rem dan lainnya. Selembar kertas berharga lima belas ribu rupiah ia sodorkan untuk lolos dari posnya. Saya menggeleng, tak sudi membayar kecuali di beri kuitansi.Ia naik pitam dan menendang ban mobil saya untuk kemudian mengusir semau hatinya. Kertas dilemparkan ke belakang bak mobil saya. Aneh! Saya pun melaju tak memperdulikannya karena tak ada perintah untuk injak gas atau rem sebagai proses pengujian, dan ketika diujung lorong saya diminta untuk turun dan memarkir kendaraan lalu menyerahkan kunci kepada seseorang disana.

Saya diajak kedalam ruangan kecil dan diminta membayar sejumlah delapan puluh ribu rupiah untuk sebuah buku baru yang akan dicetak. Tak terbayang apakah mereka ini bisa membaca atau tidak karena di hampir semua sudut terpampang tulisan bahwa perpanjangan buku KIR tidak dikenakan biaya. Sebuah paradoks ke sekian kali yang saya temukan pagi itu.

Petugas loket marah bukan kepalang ketika saya meminta kuitansi untuk pembayaran tersebut dan ia menghardik saya dengan tuduhan tidak mau bekerja sama dan tidak menghormati institusi mereka disana. Ia menanyakan instansi saya bekerja dan maunya apa. Saya hanya tersenyum dan menjawab bahwa saya adalah pedagang biasa, pemilik asli pick up yang tengah diuji dan hanya meminta kuitansi. “ Yang mana yang tidak saya hormati?” Tanya saya tegas dan tak mampu dijawab olehnya. Bagai seorang tahanan saya digelandang ke kantor kepala, di tatapi oleh beberapa pria gagah menyandang pangkat mirip taruna tentara di bahu kiri dan kanan dalam ruang kantor. Buku KIR di geletakkan di meja kepala kantor dan saya melihat disana dua pria yang juga gagah dengan seragam asyik berbincang sambil merokok. Saya diminta menunggu diluar sampai kemudian dihampiri oleh seorang wanita muda yang tengah hamil tua untuk kemudian ia meminta saya membayar uang sejumlah delapan puluh ribu rupiah.

“Tanpa kuitansi, saya tidak akan membayar …. dengan kuitansi ,satu jutapun akan saya bayar, lagi pula mobil saya tak diperiksa apa apa!” tegas saya padanya.

Ia dengan perut yang bulat besar mundur dan meminta ijin pada saya untuk menanyakan kepada kepala kantor untuk sebuah kuitansi. Sepuluh menit kemudian ia kembali kehadapan saya dan berkata bahwa kuitansi akan dibuatkan oleh kepala kantor.

“ Baik ,saya menunggu disini mbak,” ujar saya ramah.

Satu jam saya menunggu dan hanya menyaksikan dua orang berbicara dengan rokok yang tiada henti. beberapa buku KIR mobil lain menyusul kembali bertumpuk di atas buku KIR saya. Lelah menunggu tanpa kepastian saya menghampiri si wanita hamil untuk bertanya tentang nasib buku KIR saya. dan ia menjawab bahwa kepala kantor sedang sibuk.

Saya ketuk ruangan pak Kepala yang tak terkunci dan memotong pembicaraan dua orang yang merokok tanpa henti sejak sejam yang lalu. Lalu saya meminta untuk mereka memproses buku KIR saya. Mereka sedikit terkejut dan segera mengambil buku KIR paling bawah. Sibuk untuk menunda memproses buku KIR bukan alasan bagi saya karena satu jam setengah saya melihat mereka hanya merokok dan berbicara. Buku diserahkan kepada staffnya yang hamil sambil berbisik, ia berjalan didepan saya tanpa menoleh.Tak lama sang wanita hamil menghampiri dan meminta saya untuk membayar berapa saja karena kuitansi tidak bisa diberikan. Saya keluarkan uang lima puluh ribu rupiah dan menyodorkan kepadanya.

“ Mbak yang baik , ini saya rela memberi pada mbak , untuk kesehatan bayi dalam kandungan mbak, silahkan dibelikan susu dan segala makanan yang halal yang bisa mbak berikan padanya,nanti jika lahir karena saya tidak ingin anak mbak memakan hal yang haram dalam proses semua ini. Saya ikhlas untuk kebaikan anak dalam kandungan mbak…!” saya berkata pelan.

Ia menangis, saya panik dan tak menyangka reaksinya demikian, beberapa staff menghampiri dan bertanya, hanya untungnya si wanita hamil ini tak mengadu apapun pada mereka. Ia bergegas masuk keruang kepala dan muncul lima menit kemudian sambil membawa buku KIR saya.

“ Bapak diminta menunggu di luar depan loket, pak kepala bertanya bapak dari instansi mana..?” ia bertanya tanpa berani lama-lama menatap wajah saya.

“ Saya hanya pengusaha kecil , yang perduli dengan usaha saya dan juga peduli dengan korupsi yang merajalela !” jawab saya. Ia mempersilahkan saya keluar dan menunggu didepan loket, sebelumnya saya tetap menyodorkan uang selembar lima puluh ribu rupiah untuk anak dalam kandungannya, Meski terpaksa ia menerima uang itu karena saya nyatakan ikhlas untuk memberinya, bukan untuk proses mendapatkan buku KIR baru.

“Doakan anak saya yang baik ya pak!” ia meminta hal itu ketika menerima uang dari saya.

Didepan loket diluar, hanya dalam hitungan dibawah sepuluh menit nama saya dipanggil dan dengan baik mereka memberikan buku KIR baru , kunci mobil dan mengarahkan saya untuk menuju pengecatan tanda KIR sambil sebelumnya saya membayar biaya KIR sebesar empat puluh delapan ribu rupiah, DENGAN KUITANSI. Kakek tua mendampingi saya untuk mengecat tanda KIR, tangannya yang sudah gemetar menempelkan kertas sablon dan menghembuskan cat semprot dari tangannya untuk memberikan tanda bahwa mobil saya “syah” telah diuji KIR sampai enam bulan kedepan.

Uang lima puluh ribu rupiah kembali saya selipkan ke dekapan tangannya dengan keikhlasan tanpa minta kuitansi.

“Untuk cucu ya pak!” ujar saya ketika menyerahkan lembaran uang berwarna biru.

Ia senang bukan kepalang dan mengantar saya meninggalkan gerbang fasilitas uji KIR Negara Jagakarsa. Uang dari kantong saya tetap keluar sebesar seratus enam puluh ribu rupiah, bukan untuk proses KIR saja namun untuk sedekah pada orang orang kecil yang tengah hamil dan renta yang terjebak dalam gelapnya lorong proses pengujian kendaraan yang tak tahu fungsinya untuk apa.

Begitu keluar, saya disambut asap tebal sebuah kopaja yang melintas di trayek depan kantor uji KIR dengan rem yang berderit derit menjemput penumpang. Saya ngilu mendengar dan menatapnya, untuk Bis bukan di Jagakarsa pengujiannya, konon di tempat lain di timur Jakarta, namun hasilnya rasanya sama saja.

“Lorong gelap uji KIR”, Apakah itu penyebab ratusan orang tak bersalah meregang nyawa dijalan-jalan negeri akhir-akhir ini ?, saya tak mengerti karena saya hanya menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana proses pengujian yang saya alami dulu sekian tahun lamanya di tempat yang mestinya menjaga keselamatan seluruh anak bangsa dari bahaya kendaraan yang tak laik jalan.

Sabtu, 18 Februari 2012

Joran Shimano Cruzar - Si Anak Hilang

Ada sedikit cerita, beberapa waktu lalu ada kawan bilang kalau di pasar second aviary, batu aji, ada yang menjual joran dan katrol merk Shimano. Saya memang berminat dan akhirnya saya hunting kesana. Ubek-ubek di pasar itu ketemu juga tempatnya.

Memang ada sebuah lapak yang menjual beberapa joran dan katrol yang digantung. Si empunya toko langsung promosi kalau dia punya tackles shimano satu set. Dan barang ini dikasih tunjuk kesaya. Setelah saya cermati ternyata tackles ini set Joran Shimano Cruzar dan reel FX4000FB. Saya check barangnya memang masih bagus dan keliatannya brand new, masih ada tag Shimano tergantung dan ada tulisan "for sale in Singapore only".

Joran Shimano Cruzar

Iseng saya nanya harganya, "Berapa bang?", "Ini Shimano satu set asli bang, barang mahal, sama sampeyan saya kasih sejuta aja dah" kata si penjual. "Pasnya aja deh berapa?" saya langsung to the point. "Enam ratus bang, tak bisa turun lagi" jawab si penjual itu sambil ngejelasin kalau tackles Shimano tu kualitas wahid dan bla bla bla, biasa, promosi pasaran.

Saya cuma tersenyum aja terus bilang,"Sorry bang, kalau segitu saya nggak ada duit". Terus deh ngeloyor pergi. Memang dari awal saya nggak minat untuk ngambil tu tackles. Tapi dalam ati saya jadi bertanya-tanya juga. Ntar kalau ada yang beli terus kemakan omongan abang itu gimana ya?

Shimano memang brand kelas wahid untuk fishing tackles, tapi bukan berarti semua tackles dengan brand Shimano itu mahal dan "berkualitas". Karena sebenarnya saya tahu harga joran shimano cruzar di toko cuma Rp. 134.000, reel FX4000FB juga cuma Rp 198.000. Jadi sekalipun kita beli di toko paling banter juga cuma kena 300 ribuan untuk set yang ditawarkan oleh si Abang tadi. Pengen beli barang murah berkualitas tapi kalau nggak tahu justru malah kena ajrut2an.

Kembali ke laptop, kenapa saya bilang Shimano Cruzar itu si Anak Hilang, karena di catalog resmi Shimano South East Asia sendiri memang joran ini tidak dimasukkan. Jadi seolah-olah joran ini ada tapi oleh pabrikan sendiri yang bikin tidak diakui. Entah dengan alasan apa.

Sebelum ada Shimano Cruzar ini, joran Shimano yang resmi beredar dengan harga paling murah mungkin Shimano Scimitar. Perfomanya memang lumayan untuk kelas galatamaan atau mancing harian. Kalau Cruzar dari segi penampilan memang boleh tahan. Tapi untuk performa mungkin masih perlu dipertanyakan.

Update 05 Sep 2012:
Untuk penggemar Joran Shimano Cruzar ini nggak usah berkecil hati. Joran ini sudah diakui oleh Shimano dan dimasukkan ke katalog resmi untuk edisi 2012. Katalognya bisa didownload di website resmi Shimano.

Di katalognya Joran ini disebutkan dibuat dari material fibre glass. Ada yang type FG (Hollow Glass) dan SG (Solid Glass). Karena dari fiber menurut saya joran ini cocok untuk angler pemula karena tahan banting, tapi beratnya nggak nahan.

 

Sabtu, 21 Januari 2012

Hand phone dan pengaruhnya ke Saya

Sekarang hari Sabtu, besok Senin dah Imlek, karena perusahaan saya management Singapore bisa dibayangkan suasananya pada saat-saat seperti ini. Sepiiii. Yang masih aktif bekerja hanya karyawan lokal dan expat non mandarin saja. Sedangkan sebagian besar dari manajemen sudah cuti untuk merayakan Imlek.

Karena itu tangan gatal iseng pengen corat-coret di blog. Ide yang muncul di otak saya justru masalah hand phone ketinggalan tadi malam.

Jum'at sore saya pulang kerja pukul 16.30 WIB, sebelum pulang istri tercinta mengirim sms kalau di rumah listrik PLN padam, jadi belum sempat memasak. Ok lah, kita planning makan malam diluar aja, meskipun malamnya pukul 19.30 saya ada kelas Pipe Fitter, musti ngajar. Itung-itung bentar, masih sempat lah untuk prepare sebelum berangkat mengajar.

Singkat cerita, dinner sama keluarga dah kelar, saya berangkat mengajar, tapi karena waktu memang dah mepet, saya baru bisa keluar dari rumah pukul 19.25. Persiapan jadi serba tergesa-gesa, maklum jelek-jelek begini untuk urusan kerja saya selalu usahakan untuk professional jadi saya usahakan jangan sampai telat. Karena terburu-buru itulah justru hp saya tertinggal di rumah. Hp saya nokia monokrom type jadul, bukan BB apalagi Ipad, maklum saya mungkin type fungsional, hp asal ada yang penting bisa sms dan telpon. Di atas motor saya sudah mengingat-ingat, drawing komplit, flash drive ada, pena ada. Tak apalah hp tertinggal yang penting bahan saya untuk mengajar dah komplit.

Sepanjang perjalanan saya teringat-ingat masa kecil saya sampai masa kuliah saya. Dulu saat SMA, yang namanya hp itu masih barang super mewah buat kami. Di kelas kami cuma seorang anak yang bawa hp, itu pun nokia monochrome seri jadul. Tiap jam istirahat anak-anak ngerubutin pengen ngeliat, seperti barang langka dan unik. Bahkan Pak Guru dan Bu Guru waktu itu belum punya.

Tak jauh berbeda dengan waktu awal-awal kuliah saya. Cuma sebagian kecil kawan-kawan kuliah yang memiliki hp, saya termasuk yang tidak. Jadi pada waktu itu kalau kita ada tugas bersama, biasa bikin appointment di kampus, "Jam segini kumpul di kosmu ya!" Dan setelah itu tidak ada komunikasi sama sekali. Lambat laun diantara rekan-rekan akan terseleksi, mana kawan yang on time, yang suka molor sampai kawan yang suka boong kalau janjian.

Efeknya ke saya pribadi, saya selalu berusaha untuk menepati apa yang telah disepakati, meskipun jujur kadang sekali dua saya meleset juga. Nah sekarang ini, hp dah ada dimana-mana, semua orang mulai dari anak kecil sampai kakek nenek sudah pegang hp. Positive pointnya, komunikasi lancar, kita bisa terupdate dengan informasi setiap saat dimana pun.

Tetapi nilai-nilai tradisional seperti menepati janji, menghargai waktu orang lain dan sebagainya menjadi pertanyaan dan barang langka lagi. Saya mengalaminya berkali-kali. SMS semacam "Sorry Pak, saya tak bisa datang nih, ada acara." "Maaf Pak, tunggu lima menit lagi ya, saya masih on the way." Seolah-olah dengan mengirimkan SMS semacam ini "dosa" kita karena telah menelantarkan waktu orang menjadi dimaklumi.

Sekedar corat-coret saya aja. Selamat merayakan Imlek bagi yang merayakan dan happy weekend..

Senin, 16 Januari 2012

Akhirnya BAC terbentuk juga..

Gara-gara beberapa waktu lalu saya iseng ngajakin teman2 sekantor mancing ke Barelang, muncul ide untuk bikin klub mancing sendiri. Sebenarnya waktu itu saya nggak gitu palah nanggepin, maklum ocehan orang diatas perahu, dan lagi saya pribadi sudah tergabung ke Batam Fishing Club (BFC).

Tapi ternyata temen2 sekantor pada serius mau bikin klub mancing, akhirnya terbentuklah Batamec Anglers Community (BAC). Sebenarnya banyak usulan untuk nama Batamec Fishing Club, tapi nanti pasti tubrukan image sama Batam Fishing Club. Jadi setelah melalui polling kita tentukan namanya Batamec Anglers Community.
Logo BAC (Batamec Anglers Community)

Klub dah jadi langsung proses bikin kaos, bukan untuk tujuan apa2, tapi semacam identitas saja. Akhirnya disela-sela kerja bikin2 design untuk baju. Dan walah, bajupun tadi pagi dah nyampe dari Bandung. Ni sekarang tinggal turun mancingnya aja. Planning terdekat sih, besok malam minggu tanggal 21 Jan 2012. Tunggu aja hasil report ngetrip sama BAC nanti.

Rabu, 21 Desember 2011

Akhirnya Page One juga Gan...

Saya bukan lagi ngomongin Kaskus lho, tapi lagi ngomongin blog saya ini. Kebetulan memang orang tua dulu kasih nama Mubarok. Kalau diliatin di Header blog, memang saya pake nama saya sendiri untuk title blog saya.  Bukannya narcis tapi ya mau gimana lagi.

Karena itu kadang-kadang saya iseng masukin keyword "mubarok" ke kotak searchnya Google dan hasilnya blog saya ini selalu tenggelam entah kemana-mana. Yang sering muncul biasanya berita tentang Pak Ahmad Mubarok, Jenang Kudus Mubarok (yang ini enak, saya suka) atau berita tentang "mantan" Presiden Mesir Husni Mubarok.

Tapi hari ini ada yang baru, karena kerjaan lagi longgar (melonggarkan diri) iseng-iseng masukin keyword nama saya dan akhirnya mbah Google mengakui eksistensi saya kalau "mubarok" yang satu ini juga memang ada di dunia maya. Hahahahahahaha.

  



Hasil dari keyword "mubarok" di page one Google

Kamis, 01 Desember 2011

Jangan jadikan Batam-ku Kota Anarkis!!


Selama beberapa hari terakhir ini saya kurang bisa fokus dalam bekerja. Ini gara-gara demo UMK yang terjadi minggu lalu. Karena kebetulan saya bekerja di salah satu shipyard Tanjung Uncang yang notabene jadi salah satu penggerak massa utama dalam demo kemarin. Dan kebetulan juga saya memegang posisi yang “mengharuskan” saya mengawasi lebih dari 70 orang karyawan langsung dan sekitar 400 orang karyawan subcon.

Selama masa demo minggu lalu HP saya hampir-hampir nggak pernah berhenti menerima SMS dari karyawan. “Besok masih demo Pak?”, “Besok sudah bisa kerja Pak?”, “Besok kapal kita jadi undocking Pak? Kan masih demo” dan sederet lagi SMS yang bernada sama.

Ketika salah satu karyawan saya tertangkap polisi pun banyak SMS masuk yang meminta informasi yang serupa. Selama waktu itu juga saya harus rajin-rajin mengecheck perkembangan dari hasil demo, negosiasi UMK, menghubungi pengurus-pengurus SPSI demi mendapatkan informasi yang jelas, karena saya memang butuh itu.

Saya mendukung aspirasi yang diusung oleh Aliansi Pekerja agar UMK Batam disamakan dengan KHL Riil. Tapi yang sangat saya sesalkan adalah terjadinya tindakan anarkis pada demo minggu lalu. Hampir semua kantor polisi/pos jaga dirusak.

Tindakan anarkis hanya akan merugikan kita bersama. Semenjak kejadian anarkis minggu lalu, saya belum melihat lagi bapak-bapak Polisi yang biasanya mengatur lalu lintas di tiap persimpangan ke arah Tanjung Uncang (kecuali di Simpang Polsek). 

Di Simpang Basecamp Batuaji, traffic light dirusak, padahal disana merupakan persimpangan yang padat. Akhirnya kita harus ekstra hati-hati saat melewatinya. Belum ada juga tanda-tanda pos polisi disana mau diperbaiki. Dan saya yakin selama pos itu belum diperbaiki, tidak akan ada Bapak-bapak Polisi yang berdiri disana untuk menjaga lalin.

Diakui atau tidak, Polisi merupakan symbol penegakan hukum, dengan tidak hadirnya mereka, seolah-olah Batam menjadi kota tanpa control. Inilah yang paling saya takutkan. Saya kuatir jika ini terus berlanjut, Batam akan menjadi kota tanpa hukum. Tindakan anarkis akan terjadi dimana-mana.

Untuk kawan-kawan yang memperjuangkan nasibnya besok (kalaupun ada), ayo kita berjuang bersama-sama demi kehidupan yang lebih baik, tapi jangan biarkan kesempatan ini dimanfaatkan oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab untuk berbuat anarkis.

Untuk bapak-bapak Polisi dan satuan pengamanan yang lain, kita bukan musuh Pak, kita cuma berusaha untuk mendapatkan kehidupan yang lebih layak yang saat ini belum kami peroleh. Tolong lebih sabar dalam menghadapi kami, anggap kami ini adek-adek kalian yang sedang merajuk karena apa yang kami minta belum kami dapatkan.

Ayo kita jaga agar Batam kita tercinta jangan sampai dicap sebagai kota anarkis.

Senin, 21 November 2011

Garbage itu bukan sampah.. Garbage itu..

Baru aja ganti blog description dan header image. Header image pake gambar ikan Lebam serombongan lagi berenang dan blog descriptionnya ngomongin soal Garbage.

Garbage itu bukan sampah. Garbage itu Garonger Batam Gemblunk. Hehehehehehe. Untuk kalangan pemancing tegek istilah garonger sudah awam. Garonger merupakan nama sebutan untuk pemancing tegek. Kenapa kok bisa dibilang garonger?

Istilah garonger untuk pemancing tegek karena saat kita negek mata kail yang digunakan merupakan multiple hook yang sama orang lokal sering disebut Candit atau Garong. Jadi para negeker sering menyebut dirinya garonger.

Kok pake kata-kata gemblunk? Hehehehehe. Untuk mempererat keakraban antara garonger sering kita menyebut nama panggilan seadanya dan terkesan nyleneh. Contoh master-master garonger di Batam seperti Rio "Pijo", Chandra "Gemblung", Adhi "Along/Anak Longor" dll.

Jadi nggak ada salahnya kalo saya juga bikin istilah sendiri Garbage (Garonger Batam Gemblunk).. Hehehehehehe 

Jumat, 11 November 2011

Teman Sekantorku Atau Temanku Dikantor ?

Tulisan bagus oleh bang Dadang Kadarusman..


” Segala sesuatu tentang kantor akan sirna kecuali kenangan manis yang kita bangun bersama teman-teman baik. ”

Ketika kita menyebut ‘teman sekantor’, sebenarnya kita tidak benar-benar ingin menyebutnya sebagai ‘teman’. ‘Dia bekerja di kantor yang sama dengan kita,’ hanya itu maksudnya.

Sekarang, saya ingin mengajak Anda untuk benar-benar ‘berteman’ dengan mereka, bukan sebatas status sebagai sesama karyawan di perusahaan yang sama. Apa memang perlu begitu? Penelitian menunjukkan bahwa mereka yang mempunyai teman baik dikantor, kehidupan kerjanya jauh lebih menyenangkan daripada orang-orang yang hanya sibuk dengan urusannya sendiri. Hal ini tidak hanya berdampak kepada pribadi orang tersebut, melainkan juga kepada tingkat kepuasannya dalam bekerja. Maksudnya, orang yang berhasil membangun pertemanan yang baik di kantor lebih bisa menikmati pekerjaannya. Apakah Anda merasakan hal yang sama?

Pekerjaan selesai tepat waktu dengan kualitas yang nyaris sempurna. Itulah obsesi saya di tahun-tahun awal perjalanan karir. Segala kebutuhan sudah terpenuhi di ruang kerja sehingga tidak banyak waktu terbuang percuma. Termasuk lunch box yang dibawa dari rumah. Dengan orang lain, saya berhubungan seperlunya untuk urusan pekerjaan. Semuanya jadi efisien. Namun kemudian saya menyadari, bahwa ternyata saya tidak memiliki banyak teman. Karir saya baik. Pendapatan saya cukup. Tetapi, saya seperti sendirian. Lalu saya bertanya; apakah karir seperti ini yang saya inginkan? Tiba-tiba saja saya menyadari bahwa saya membutuhkan lebih dari sekedar lap top, meja kerja, telepon dan tumpukan dokumen. Saya membutuhkan lebih dari sekedar ‘orang sekantor’. Saya membutuhkan seseorang yang bisa menjadi sahabat bukan karena proyek yang harus dikerjakan bersama. Melainkan pertemanan sesuai fitrah manusia. Lalu saya memutuskan untuk mengubah cara bergaul dengan teman-teman dikantor. Hasilnya? Kehidupan karir dan pribadi saya jauh lebih baik dari sebelumnya.

Bagi Anda yang tertarik menemani saya belajar membangun hubungan dengan teman dikantor, saya ajak memulainya dengan memahami 5 prinsip Natural Intelligence (NatIn) berikut ini:

1. Mencari teman untuk tersenyum.
Setiap orang membutuhkan rasa bahagia didalam hatinya. Kebahagiaan itu terpancar melalui raut wajahnya. Makanya, salah satu ciri orang bahagia adalah senyumnya yang indah menghias wajah. Walhasil, orang yang jarang tersenyum dikantor boleh jadi bukanlah orang yang bahagia. Masalahnya, untuk bisa tersenyum kita membutuhkan orang lain. Kita tidak mungkin tersenyum sendirian sambil tetap berharap disebut sebagai orang waras. Singkatnya, kita butuh orang lain agar bisa tersenyum secara sehat. Dan dengan senyum itu, kita bisa mendapatkan kebahagiaan yang kita dambakan di tempat kerja. Maka tidak ada cara lain untuk bahagia di kantor selain menjadikan teman-teman di kantor sebagai sahabat kita. Karena tanpa mereka, kita tidak akan pernah bisa tersenyum. Dan tanpa senyum rasa bahagia tidak pernah bisa menjadi milik kita.

2. Merasa senasib sepenanggungan.
Kita semua di kantor ini adalah para pribadi yang sedang memperjuangkan hidup. Mungkin kita punya alasan masing-masing. Tetapi, kita sedang sama-sama berjuang untuk mencapai sesuatu yang kita inginkan. Jujur saja; jika Anda bekerja dikantor itu, belum tentu Anda memang benar-benar ingin bekerja disana. Mungkin karena rewardnya yang besar. Mungkin karena jabatannya. Mungkin karena ada alasan lain. Jika Anda bisa mendapatkan semua yang Anda peroleh itu ditempat lain, apakah Anda masih ingin bekerja disana? Mungkin ya, mungkin tidak. Semuanya tidak mutlak. Namun satu hal yang pasti bahwa cepat atau lambat kita tidak akan bisa lagi bekerja disana. Meskipun kita masih ingin, tetapi hal itu tidak mungkin sehingga kita pun harus meninggalkannya. Itu tidak hanya saya dan Anda saja yang mengalami. Semua orang juga begitu. Makanya, kita dan orang-orang dikantor sebenarnya senasib sepenanggungan. Alangkah baiknya jika kita bisa saling menjaga perasaan dalam pergaulan yang lebih sehat dengan sesama teman di kantor.

3. Hubungan dua arah.
Tidak seorang pun selalu berada dalam puncak semangat selama bekerja. Naik dan turun pasti terjadi. Ketika sedang ‘down’, kita membutuhkan seseorang yang bisa membantu kita kembali ‘up’. Orang lain pun membutuhkan kita untuk alasan yang sama. Kita melihat banyak orang yang kehilangan motivasi, dan akhirnya gagal menjalani karirnya. Meski mereka tidak sampai tersingkir, tetapi menjalani keseharian dengan terpaksa dan tanpa gairah. Disekitar kita ada banyak orang seperti itu yang membutuhkan seseorang untuk kembali bangkit. Pada saat yang lain, mungkin kita sendirilah yang mengalami situasi sulit seperti itu. Dengan begitu, kita bisa saling menghibur dikala susah. Saling memotivasi saat kehilangan arah. Saling menguatkan saat sedang lelah. Dan tentu saling berkontribusi dalam pencapaian masing-masing sehingga hubungan saling menguntungkan itu bisa berjalan dua arah.

4. Membangun jembatan emosi.
Jika berteman dengan tulus, kita tidak lagi memiliki sifat dengki. Kita justru senang ketika teman kita mendapatkan sesuatu. Disaat begitu banyak orang yang ‘tersiksa’ batinnya karena kalah bersaing dengan orang lain, teman yang tulus justru ikut bahagia dengan merayakan kemenangan temannya. Bahkan jika mereka sedang saling bersaing; mereka tetap menjaga agar tidak saling menyakiti atau mencurangi. Apalagi saat tidak sedang bersaing. Teman kita memberi dukungan penuh seperti halnya kita yang selalu mendukung mereka. Beda banget dengan orang-orang yang tidak memiliki teman di kantornya. Mereka tidak memiliki keterikatan emosi apapun dengan orang lain, karena hubungannya hanya dibangun atas dasar tuntutan pekerjaan. Pertemanan kita membangun jembatan emosi positif, sehingga kita tidak tertarik lagi untuk saling mengakali atau mencurangi.

5. Membuat kenangan positif.
Pekerjaan kita hanya sementara. Jika tiba saatnya nanti, kita akan diminta untuk mengembalikan semuanya kepada perusahaan. Sejak saat itu, kita tidak lagi memiliki hubungan apapun dengan perusahaan. Namun, ada yang tidak berakhir begitu saja, yaitu; persahabatan yang telah kita bangun dengan teman-teman dikantor. Sesekali mungkin Anda akan merindukan kantor yang sudah Anda tinggalkan itu. Namun kerinduan itu bukan kepada pekerjaannya, melainkan kepada orang-orang yang pernah menjalin hubungan yang baik dengan Anda. Tidak seorang pun dapat merenggut kenangan indah itu dari benak kita. Setiap kebaikan yang kita berikan kepada rekan sejawat di kantor, atau kebaikan yang mereka lakukan untuk kita; akan menjadi kenangan abadi kita.

Saya pernah diingatkan seorang sahabat yang mewanti-wanti dalam bergaul dengan seseorang yang dinilainya sebagai pribadi yang ‘licik’. “Hati-hati,” katanya, “Dia bisa menusuk dari belakang.” Saya mengakui jika nasihat itu bagus. Namun, saya memutuskan untuk terus berteman dengan siapapun di kantor. Jikapun benar ada orang yang licik, saya percaya satu hal; orang lain tidak akan pernah bisa berbuat licik kepada orang yang tahu bagaimana cara menghadapinya. Maka bertemanlah dengan siapapun di kantor Anda. Maka Anda akan mendapatkan lebih banyak manfaat. Dan kehidupan kerja Anda akan menjadi lebih baik lagi.

Kamis, 29 September 2011

Apakah System Perpipaan di Kapal Termasuk Piping Process?

Lagi kepengen ngomong soal pipa. Ini murni pendapat pribadi jadi kalo nggak setuju atau sepaham tinggal dikomen aja.

Kita semua tahu bahwa biasanya piping system yang ada di refineries, petrochemical, pabrik kimia, pabrik kertas dll menggunakan acuan ASME B31.3 Process Piping dalam design dan executionnya. Ini dikarenakan piping system yang ada di tempat-tempat tersebut diatas dikategorikan sebagai suatu proses.


Menurut thefreedictionary.com dan answer.com piping process didefinisikan sebagai "an industrial facility, pipework whose function is to convey the materials used for the manufacturing processes". Halah, buat saya pribadi ini terlalu general karena jika memakai pengertian tersebut tentunya semua system perpipaan akan kena. Termasuk juga piping system yang ada di galangan atau juga piping facility yang ada di pabrik-pabrik.

Saya bukan orang process tapi kalau menurut logika saya sesuatu dikatakan mengalami proses jika terjadi perubahan sifat pada saat sebelum dan setelah mengalami proses tersebut. Minyak mentah masuk refineries keluar jadi resin, nafta, bensin dll. Jelas sifat-sifatnya telah berubah. Kalo fluid yang masuk ke piping system kemudian output sifat-sifatnya tidak mengalami perubahan baik physic atau chemical, maka bisa dianggap tidak terjadi proses apapun di dalam piping system tersebut.

Memakai dasar logika diatas saya berpendapat bahwa piping system yang ada di kapal bukan suatu piping process, karena fungsi utama mayoritas piping system tersebut adalah "hanya" untuk mentransfer fluid yang diinginkan tanpa mengubah karakteristik fluidanya. 

Jumat, 01 Juli 2011

Gaji dan Karir Saya Tidak Naik-naik, So What?

Tulisan yang sangat bagus dan inspiratif dari strategimanajemen.net


Secara berkala, saya kadang menerima email dari para pembaca blog ini. Isinya bermacam-macam. Ada yang sekedar ingin menanyakan judul buku manajemen yang paling mutakhir, ada yang minta pendapat mengenai strategi pengembangan SDM, hingga konsultasi minta advis bagaimana caranya membesarkan bisnis.
 
Namun tak jarang saya menerima email yang isinya curhat dan keluhan yang sarat dengan sembilu kegusaran. Isinya terpaku pada sebuah isu klasik : kenapa gaji dan karir saya tidak naik sepesat yang saya harapkan.

Seperti minggu lalu, saya menerima sebuah email yang isinya kurang lebih seperti ini : pak, saya sudah bertahun-tahun bekerja di perusahaan ini dan telah memberikan kerja terbaik; namun kenapa gaji yang diberikan perusahaan rasanya tidak sebanding dengan apa yang telah saya kerjakan. Di perusahaan ini, karir saya sepertinya mentok, berjalan ditempat, karena manajemen tidak punya kebijakan karir yang jelas. Semuanya serba tertutup dan remang-remang. Jadi kira-kira apa yang harus saya lakukan, pak?

Jawabannya sederhana dan lugas : segera ajukan surat resign, dan cari tempat lain yang menjanjikan rezeki yang lebih baik.

Jawaban lugas itu berangkat dari filosofi yang sangat simpel : sebab hanya Anda, dan Anda sendirilah, yang bisa menentukan dan mengubah nasib serta masa depan hidup Anda. Bukan orang lain, bukan atasan, bukan direktur, dan bukan juga pemilik perusahaan. You create your own future.

Jadi kalau Anda stuck pada kantor yang memberikan gaji pas-pasan atau yang tidak memberikan karir yang jelas, jangan pernah, sekali lagi, jangan pernah, menyalahkan atasan Anda, pihak manajemen, direktur atau pemilik perusahaan Anda. Salahkan diri Anda sendiri kenapa mau berkarir pada tempat yang tak pernah menjanjikan masa depan. Salahkah diri Anda kenapa mau menggadaikan nasib Anda pada sebuah jalan tanpa ujung.

Jika Anda kecewa dengan gaji atau dengan kebijakan karir yang tak pernah jelas di perusahaan Anda, namun Anda tidak berani pindah ke tempat lain yang lebih menjanjikan, berarti Anda tidak BERANI mengubah nasib Anda. Dan ah, bukankah Sang Pencipta tidak akan mengubah nasib seseorang jika orang itu tidak mau mengubah nasibnya sendiri.

Karena itu jika Anda hanya bisa mengeluh dan mengeluh tentang gaji yang kecil-lah, tentang karir yang ndak jelas-lah, tentang penilaian atasan yang subyektif-lah, dan tentang blah-blah lainnya, namun kemudian Anda tidak berani keluar dari tempat semacam itu, sorry, orang-orang seperti itu hanya layak disebut sebagai pencundang. Mengeluh hal-hal semacam itu hanyalah buang waktu, dan hanya akan menebarkan energi negatif yang tak pernah berakhir.

Karena itu jika kita tidak sreg dengan kebijakan gaji dan karir di kantor, namun kita tidak berani keluar dari tempat itu, why don’t we just shut up our mouth and do our job as best as we can?

Atau alih-alih hanya bisa mengeluh (jujur, saya agak alergi dengan orang yang suka mengeluh), mengapa kita tidak menegakkan energi positif yang menjulang? Mengapa kita tidak terus saja bekerja dengan tekun dan penuh semangat kemuliaan; sambil yakin bahwa suatu saat Yang Diatas pasti akan membalas ketekunan dan kemuliaan ini dengan barokah dari arah yang tak terduga-duga?

Kalau kita sudah bekerja dengan termehek-mehek, namun pihak manajemen tetap saja cuek dan tetap enggan memberikan gaji/karir yang sebanding, kenapa kita tidak tetap yakin bahwa suatu saat pasti akan ada tempat lain yang lebih baik bagi kita?

Kalau Anda merasa sudah bekerja dengan tekun dan bisa mengerjakan tugas dengan sangat baik, mengapa Anda tidak melayangkan lamaran pada tempat lain yang lebih menjanjikan? Ke tempat yang lebih bisa menghargai talenta Anda? Jika Anda benar-benar merasa yakin dengan kecakapan Anda, mengapa Anda hanya bisa berkeluh kesah tentang gaji, tentang karir, namun do nothing? Sebab jika Anda benar-benar yakin dengan ketrampilan Anda, bukankah banyak perusahaan lain yang pasti mau menerima lamaran Anda dengan penuh sukacita?

Sekali lagi, pesan yang mau digedorkan dalam tulisan kali ini adalah : you create your own future. Jika kita tidak happy dengan gaji, dengan karir di kantor kita, jangan pernah kita mengeluh dan menyalahkan pihak lain. Sebab begitu kita menyalahkan pihak lain atas pilihan nasib kita, maka saat itu juga berarti kita telah menggadaikan masa depan kita.

Dan percayalah : hanya pribadi yang bermental kuli yang mau menggadaikan nasibnya pada orang lain.

Rabu, 08 Juni 2011

Seberapa pentingkah blog anda dibaca orang ?

Belakangan ini jadi bertanya-tanya ke diri sendiri, seberapa pentingkah sih blog kita dibaca [baca : dikunjungi] orang? Kebetulan kalau untuk blog saya ini memang tujuan awalnya bukan untuk dibaca orang lain. Lebih ke cuap-cuap sendiri aja.

Baru setelah membaca beberapa thread milis jadi kepikiran juga. Enak juga ya kalo pandangan dan pikiran kita bisa diketahui orang lain, bisa dikomentari orang lain, atau bahkan bisa mempengaruhi pemikiran orang lain (wuih). Karena seperti kata orang-orang, rambut boleh sama hitam tapi isi kepala lain-lain.

Kembali ke cerita banyaknya pengunjung tadi. Blog saya ini mungkin termasuk miskin pengunjung, kalau dirata-rata cuma 10 visitor perhari. Tetapi kembali ke awal niatan bikin blog, saya pribadi memang nggak terlalu ambil pusing.

Kalau kata kawan-kawan blogger yang lain, "Kalau pengen blognya rame di SEO dong !!". Halah. Nulis apa yang pengen saya tulis aja, ada yang baca syukur nggak ada juga nggak apa-apa. Semoga aja tulisan-tulisan ini bisa menjadi rekam jejak sejarah di masa yang akan datang. Karena saya yakin suatu saat nanti pasti saya akan senyum-senyum sendiri kalo baca-baca lagi postingan yang lama.

Kamis, 02 Juni 2011

Liburan ke Pantai Melayu

Malam minggu sudah turun mancing, hari libur ini giliran ngajak anak istri piknik ke pantai. Kebetulan karena kita nggak mau terlalu jauh, jadi pantai yang kita pilih yang terdekat dari arah jembatan satu. Sebenarnya ada pantai Setokok sebelum pantai Melayu tapi istri nggak mau jadi pilihan tetap ke pantai Melayu.

Ini bukan kali pertama saya dan istri maen ke Pantai Melayu, sebelum ada si kecil kita pernah juga maen ke sini. Tapi ketika kemarin kita mengunjungi pantai tersebut ternyata pihak pengelola (mungkin) telah mengadakan beberapa renovasi dan perbaikan yang lumayan signifikan.

Pada saat terakhir maen ke Pantai Melayu (kurang lebih setahun yang lalu) jalan masuk dari jalur utama masih belum diaspal, kondisi pantai agak kotor dan banyak anjing yang berkeliaran, belum kalo dibilang masalah lalat-lalat yang berterbangan, duh sedihnya.

Saya dan jagoan kecil


Tapi pada kesempatan kali ini sudah banyak yang berubah dari Pantai Melayu, jalan masuk diaspal mulus, saya sekeluarga tidak menjumpai lagi anjing-anjing yang berkeliaran dan kondisi di pinggiran pantai pun lumayan bersih. Bahkan sekaran ada hiburan tambahan yaitu Banana Boat. Perasaan yang ngetrend banana boar beginian di Bali aja. Tetapi ada satu yang menurut saya masih menjadi nilai minus yaitu lalat-lalat yang berterbangan, bikin nggak selera makan bakso di sana.

Selain itu ada yang menggelitik perhatian saya, saya menjumpai tong-tong sampah berbau KKN di area Pantai Melayu. hehehehehe. Ada nama Univ dan jurusannya, mungkin sekalian promosi. : )

Minggu, 15 Mei 2011

Kecantikan bukanlah asset

Bagaimana saya mendapatkan Pria Kaya dengan penghasilan lebih dari US$ 500.000,- per tahun

Seorang gadis mengirim surat ke sebuah majalah terkenal. Gadis tersebut sangat cantik dan sangat populer di lingkungan sekitarnya. Karena dianggap unik, majalah terkenal tersebut lalu memuat tulisan itu dengan judul "Apa yang harus saya lakukan untuk mendapatkan pria kaya?". Demikian isi surat gadis cantik tersebut:

Maaf jika sedikit menyindir, tetapi saya hanya mencoba jujur dengan apa yang saya pikirkan selama ini. Saya berumur 25 tahun, sangat cantik, dan punya selera fashion yang sangat bagus. Saya ingin menikah dengan seorang pria yang berpenghasilan minimal 500 ribu dollar per tahun.

Anda mungkin berpikir saya matre, tetapi persyaratan yang saya ajukan tersebut sebenarnya sangat wajar. Tahukah Anda jika penghasilan 1 juta dollar per tahun hanya dianggap sebagai kelas menengah di New York? Saya hanya mengajukan syarat separuhnya sehingga saya kira cukup masuk akal.

Adakah diantara pembaca majalah ini yang punya penghasilan minimum 500 ribu dollar per tahun? Apa kalian mau menikah denganku? Yang ingin saya tanyakan ialah apa yang harus saya lakukan untuk menikahi orang kaya seperti Anda?

Pria terkaya yang pernah kencan dengan saya hanya berpenghasilan 250 ribu dollar per tahun. Saya yakin Anda tahu, penghasilan segitu tidaklah cukup untuk hidup di pemukiman elit City Garden, NewYork.

Dengan kerendahan hati, saya ingin menanyakan di mana saya bisa bertemu pria lajang kaya? Pria umur berapa yang harus saya cari? Kenapa kebanyakan istri orang-orang kaya hanya berpenampilan 'standar'? Saya pernah bertemu dengan beberapa wanita yang memiliki penampilan 'tidak menarik', tetapi mereka justru mendapatkan pria kaya.

Bagaimana cara Anda, para pria kaya, mengambil keputusan siapa yang kelak menjadi istri dan siapa yang hanya pantas menjadi pacar?

(Si Cantik)


Tidak disangka, tulisan yang berisi banyak tantangan tersebut ditanggapi oleh banyak pria kaya dengan serius. Di bawah ini adalah balasan dari seorang pria kaya yang bekerja di Finansial Wall Street:

Saya sangat bersemangat saat membaca surat Anda. Saya rasa banyak gadis di luar sana yang punya pertanyaan sama dengan Anda. Ijinkan saya untuk menganalisa situasi yang Anda alami, tentunya dari sudut pandang seorang profesional. Penghasilan saya per tahun lebih dari 500 ribu dollar, sesuai dengan syaratmu, jadi saya tidak main-main dengan balasan saya ini.

Menurut saya, jika dipandang dari sisi bisnis, menikahi Anda adalah sebuah keputusan yang salah. Jawabannya mudah, Saya akan coba menjelaskannya.

Saya menarik kesimpulan bahwa Anda telah menempatkan "kecantikan" dan "uang" adalah dua hal yang sederajat, di mana Anda mencoba menukar kecantikan dengan uang. Pihak A menyediakan kecantikan dan Pihak B membayar untuk itu, hal yang masuk akal. Tetapi, ada masalah besar di sini, yaitu kelak kecantikan Anda akan hilang. Faktanya, penghasilan saya mungkin akan meningkat dari tahun ke tahun, tetapi Anda tidak akan bertambah cantik tahun demi tahun. Dan sebagai seorang pebisnis saya tidak akan merelakan uang saya hilang tanpa alasan yang jelas.

Jika dipandang dari sudut ekonomi, saya adalah aset positif yang selalu meningkat dan Anda adalah aset negatif yang selalu menyusut atau liabilitas. Bahkan, saya bisa berkata bahwa penyusutan aset yang Anda miliki bukan hanya penyusutan normal, tetapi penyusutan eksponensial. Jika Anda menganggap kecantikan sebagai aset, tentunya nilai Anda akan sangat mengkhawatirkan 10 tahun mendatang.

Setiap aset selalu memiliki nilai tukar. Kecantikan Anda juga memiliki nilai tukar. Berdasarkan aturan yang kita gunakan di Wall Street, jika nilai tukar sebuah aset selalu turun maka aset tersebut harus segera dilepaskan. Menyimpan aset menurun dalam jangka waktu lama adalah ide yang sangat buruk. Maaf jika terdengar kasar, tetapi semua pria kaya tahu bahwa setiap aset dengan nilai depresiasi besar harus segera dijual atau setidaknya "disewakan".

Anda seharusnya tahu bahwa pria dengan penghasilan lebih dari 500 ribu dollar per tahun pasti bukanlah pria bodoh. Kami mungkin mau berkencan dengan Anda, tetapi tidak untuk menikahi Anda. Saya menyarankan agar Anda melupakan saja ide untuk mencari cara menikahi pria kaya. Lebih baik Anda menjadikan diri Anda orang kaya dengan pendapatan lebih dari 500 ribu dollar per tahun. Hal ini lebih bagus daripada mencari pria kaya bodoh yang mau menikahi Anda.

Mudah2an balasan ini dapat membantu. Jika Anda tertarik dengan servis "sewa pinjam", silahkan hubungi saya.

(J.P. Morgan)

Minggu, 24 April 2011

Ungaran, kotaku tercinta...

Karena besok pulang kampung ke Semarang, jadi teringat hometown nih. Saya besar di Ungaran, Kab Semarang. Daerah pinggiran dari Semarang. Area Ungaran sendiri sebenarnya sudah merupakan area pegunungan jadi bisa dibayangin sendiri seperti apa kondisi kampung halaman saya.

Meskipun saya bukan asli Ungaran tetapi hampir sebagian besar masa kecil saya hingga lulus kuliah saya habiskan di Ungaran. Ungaran kota kecil yang indah, karena pegunungan, iklim sehari-harinya sejuk. Segala macam sayuran mudah dijumpai disana. Yang susah tentu saja ikan laut dan ikan asin. Karena itulah mungkin sampai sekarang saya nggak bisa berenang tetapi jago nyangkul di kebun.

Ungaran sendiri terletak di kaki gunung yang mempunyai nama sama yaitu Gunung Ungaran. Gunung ini tidak terlalu tinggi, tetapi mempunyai pemandangan yang indah. Karena tidak terlalu tinggi dan medan pendakiannya tidak terlalu susah, gunung Ungaran menjadi tempat favorit anak muda Ungaran dan sekitarnya untuk menghabiskan waktu di kala senggang.

Gunung Ungaran difoto dari area Candi Gedong Songo 

Semasa SMA hampir tiap bulan sekali saya dan kawan-kawan naik gunung Ungaran. Di lereng gunung ini terdapat juga berbagai obyek wisata yang selalu ramai di akhir pekan. Mulai dari Candi Gedong Songo, Wisata Bandungan sampai pemandian air panas Limut di Boja.

Pemandian air panas Limut, Gonoharjo

Berbeda dengan di Batam, di kota kecil seperti Ungaran kultur Jawa masih terasa sekali. Tetapi mungkin karena pengaruh media atau internet terakhir saya pulang ke sana anak mudanya bisa dibilang sudah "gaul abis".

Meskipun begitu saya tetep kangen pulang ke Semarang. 

Rabu, 20 April 2011

Apakah anda suka Manga?

Manga (dibaca man-ga atau ma-ng-ga) yang saya maksud bukan buah mangga yang sering kita makan. Tapi merupakan bahasa Jepang untuk komik. Jadi kalo orang Jepang sendiri menyebut semua komik dengan manga, sedangkan untuk kita (bukan orang Jepang) mengidentikkan manga sebagai komik bikinan orang Jepang. Mungkin beberapa diantara kita kurang familier dengan istilah ini. Coba kalau Doraemon, Naruto atau Luffy si Topi Jerami? Pasti anda pernah mendengarnya.

Saya sendiri termasuk penggemar berat manga, tapi bukan semua jenis manga. Sekedar informasi saja, di negeri asalnya manga digolongkan menjadi banyak jenis. Ada yang ditujukan untuk anak-anak, remaja laki-laki, remaja perempuan, orang dewasa bahkan manga yang berbau pornografi pun punya kelasnya tersendiri.

Secara garis besar manga bisa di kategorikan menjadi :
  • Kodomo, manga yang ditujukan untuk anak-anak kecil, karena ditujukan untuk anak-anak kecil tentu saja ceritanya bersifat lucu dan menyenangkan, jauh dari unsur-unsur kekerasan dan pornografi. Manga yang masuk kategori ini contohnya Doraemon. Di Indonesia sendiri ada sedikit kesalahpahaman tentang manga jenis ini. Crayon Sinchan bukan merupakan jenis kodomo, manga ini merupakan manga kelas berat karena memberikan contoh yang tidak baik kepada anak kecil. Di negeri asalnya manga ini (yang sudah diubah ke dalam bentuk anime) tidak diperbolehkan untuk ditonton oleh anak kecil, sehingga jam putarnya malam hari. Tapi entah kenapa di negeri kita menjadi tontonan yang populer untuk anak kecil.
  • Shounen/Shonen, ini jenis manga yang ditujukan untuk remaja laki-laki. Biasanya sih bercerita tentang sifat heroisme dimana heronya tokoh laki-laki. Ini merupakan jenis manga favorit saya. Yang masuk dalam kategori ini antara lain Naruto, One Piece, Samurai Deeper Kyo, Bleach, Hunter x Hunter dan masih banyak lainnya. Kalo kita perhatikan jenis manga ini mempunyai ciri karakteristik yang hampir mirip. Ada semacam perkembangan untuk tokoh heronya dari nol menjadi suatu karakter yang "super". Dimana efek yang diinginkan tentunya ada keterikatan dari si pembaca ke karakter hero. Bisa dilihat dari tokoh Naruto, Luffy ataupun Kurosaki Ichigo. Bahkan di One Piece perkembangan karakter jenis ini ditunjukkan lebih jelas dan menarik dengan sistem nilai bounty untuk kepala masing-masing anggota kru bajak laut Topi Jerami. 
Tokoh favorit saya, Luffy

  • Shoujo/Shojo, ini jenis manga yang ditujukan untuk remaja perempuan. Yang masuk kategori ini bisa Serial Cantik dari Elex Media. Di Indonesia yang sangat terkenal dari genre ini selain serial cantik mungkin Sailor Moon. Saya kurang begitu suka manga genre ini jadi nggak bisa ngomong banyak. 
  • Seinen, ini merupakan jenis manga yang ditujukan untuk laki-laki dewasa. Jadi kalo ada anggapan orang dewasa tidak boleh baca manga, menurut saya itu kurang benar. Manga genre ini merupakan favorit saya yang kedua setelah shounen. Ya maklumlah kan usia sudah bertambah terus kalo cuma baca One Piece aja nanti dikomen sama istri. Dari genre ini yang menjadi favorit saya adalah Vagabond. Bercerita tentang seorang samurai legendaris dari Jepang bernama Miyamoto Musashi yang sedang mencari jati dirinya menjadi seorang samurai dan berkelana untuk menambah pengalaman serta ilmunya. Ciri khas dari manga jenis ini gambarnya realistis dan proportional sehingga tampak mirip orang yang sesungguhnya. Ceritanya pun agak berat, jadi kalo anak-anak yang baca dah pasti ndak masuk jalan ceritanya.
Vagabond Manga
  • Josei/Redikomi, seinennya cewek. Manga untuk perempuan dewasa, karakteristiknya mirip-mirip dengan seinen. Biasanya bercerita tentang kehidupan sehari-hari seorang wanita karir ataupun seorang pelajar wanita. Tentu saja bukan genre favorit saya. 
Selain genre manga yang umum diatas masih banyak lagi jenis genre yang lainnya, biasanya berupa sempalan-sempalan atau mungkin ditujukan untuk tujuan yang lain. Contoh Hentai atau sering juga disebut Ecchi (asalnya dari pengejaan huruf H dalam bahasa inggris yang dijepangkan). Selan itu ada juga Doujinshi (manga yang merupakan manga plesetan dari manga yang terkenal).