Senin, 06 Agustus 2012

Fishing Reel (Katrol Pancing) Termahal di Dunia

Pernah penasaran nggak kira-kira fishing reel yang paling mahal tu harganya berapa? Dulu awal-awal mancing saya selalu berpikiran kalau reel yang mahal tu pasti reel-reel laut yang untuk sport fishing techniques semacam jigging, popping dsb. Begitu terpesona dengan Stella, Fream J dan teman-temannya. Reel-reel tadi memang seharga 6 jtan keatas, kalau saya beli pasti diamuk sama Istri.

Tapi ternyata ada reel yang jauh lebih mahal lagi dari reel tersebut. Reel ini pun bukan untuk "fight" ikan-ikan berukuran besar. Namanya "Hardy Zane Ti". Nah lho, saya aja juga baru denger kok. Karena pabrikannya sendiri lebih mengkhususkan diri ke teknik fly fishing. Harga sebiji fishing reel ini US$8000,-. Kalau kita anggap US$1 = Rp. 8500,- berarti harganya dalam rupiah Rp. 68.000.000,- Busyet.. Dapat Kawasaki Ninja RR250 tuh..
Fly Fishing Reel Hardy Zane Ti
Apa yang istimewa dari reel ini sampe harganya bisa selangit gitu? Kelebihannya ada pada "Ti" dari namanya. Ti tersebut merupakan singkatan dari Titanium. Kalau ngomong soal ilmu material teknik, Titanium memang salah satu material "sempurna".

Titanium punya dua kelebihan utama dibandingkan dengan logam lain, yang pertama tahan karat, jauh lebih anti corrosive dibanding stainless steel biasa, mungkin kalau kita punya barang dari titanium terus kita lempar ke laut, kita ambil lagi 30 tahun kedepan, tu barang nggak bakalan karat. Kita gosok pun kinclong lagi. 

Kelebihan yang kedua adalah ringan dan kuat. Sebagai perbandingan titanium murni dan besi dengan volume yang sama, berat titanium akan 45% lebih ringan dari pada berat besi. Reel diatas beratnya cuma 15 ons alias 150 gr. Karena kelebihannya inilah material titanium sering dipakai di industri aerospace. Dari sinilah harga fantastis tadi timbul.

Jadi kalau anda hobi memancing dan pengen punya reel yang tahan sampai dipake anak cucu nanti, mungkin nggak ada salahnya anda beli reel ini. 

Jumat, 06 Juli 2012

Dilemma berbahasa Inggris di tempat kerja

Pagi ini sehabis toolbox talk ada seorang bapak-bapak yang agak berumur mengajak berdiskusi. Beliau bercerita kalau sebelumnya di perusahaan yang lama (perusahaan EPC PMDN yang lumayan terkenal) beliau mempunyai posisi sebagai piping supervisor tetapi sekarang di perusahaan ini beliau bekerja sebagai pipe fitter.

Saya pun bertanya,”Kok bisa Pak? Kenapa nggak melamar untuk posisi yang sama?”. Beliau menjawab,”Saya nggak bisa bahasa Inggris Mas”. Dan Saya pun terdiam. Pembicaraan kami pun dilanjutkan dengan membahas berbagai masalah perpipaan seperti drawing, material sampai ke masalah etika kerja. Dan menurut pendapat Saya pribadi, sebenarnya Bapak ini memang punya kemampuan untuk jadi Piping Supervisor. Alangkah sayangnya.

Pengalaman yang sama pernah Saya alami sebelumnya di perusahaan yang lama. Saya punya satu orang rekan engineer yang secara kinerja dan kemampuan sebenarnya tidak kalah dengan anak buah saya yang expatriate. Tapi karena keterbatasan berbahasa tadi membuat dia kesulitan untuk lebih berkembang. Beberapa kali saya tawari job offer di tempat lain, dia selalu menolak dengan alasan bahasa tadi. Sampai yang terakhir sebelum saya keluar saya tawarkan untuk naik ke posisi management pun dia tidak berani untuk mengambilnya.

Masalah klasik ini memang seakan menjadi dilemma untuk kebanyakan orang. Ketidak mampuan berbahasa asing (baca: bahasa Inggris) membatasi kesempatan untuk berkarir ke jenjang lebih tinggi dan terkadang juga kesempatan memperoleh pekerjaan yang lebih bagus. Beruntung bagi beberapa orang yang memang sengaja mempersiapkan diri untuk bekerja di lingkungan multinational.
Dalam dunia kerja bahasa memang penting karena salah satu hal yang paling dibutuhkan dalam bekerja adalah kemampuan untuk berkomunikasi. Contoh: ada seorang pekerja, ketika ditanya oleh atasannya tentang suatu masalah dia hanya terdiam, bukan karena tidak tahu permasalahannya ataupun solusinya tetapi lebih dikarenakan ketidakmampuan untuk mengungkapkan/mengkomunikasikan hal tersebut karena keterbatasan bahasa.
Peluang inilah yang disambut baik oleh pekerja-pekerja dari Negara lain (pinoy, bangla dst). Mereka tidak selalu lebih mampu ataupun pintar dari kita, tetapi mereka bisa berkomunikasi dengan lancar.
Pertanyaan yang sering timbul di benak saya adalah: kita bekerja di Indonesia, digaji dengan mata uang rupiah kenapa musti kita bekerja dengan bahasa formal menggunakan bahasa Inggris? Menurut pemikiran saya penyebabnya : 
  1. Karena mereka pemilik modal alias yang punya uang.
  2. Kelemahan regulasi dan aplikasinya di Negara kita. Coba kita seperti Jepang yang mewajibkan semua pekerja asingnya untuk mempelajari bahasa dan budaya mereka sebelum bekerja di Negara mereka.
Dengan kondisi diatas, (maaf) untuk saat ini kita belum bisa menjadi tuan di Negara sendiri. Kita masih hidup dalam penjajahan dengan wajah baru. Dan saya pribadi juga termasuk salah satu orang jajahan tersebut.  

Rabu, 04 Juli 2012

Bensin di Karimun 1 Liter = Rp. 20.000,-

Ini pengalaman pertama saya harus meninggalkan motor kesayangan di PT. Sebelumnya memang pernah motor saya tinggal di PT waktu di Batam, tapi itu karena tidak sengaja alias ketinggalan. Tetapi untuk kali ini, motor memang sengaja saya tinggal di parkiran perusahaan karena tak ada bensinnya. Hahahahahaha.

Karimun memang pulau yang relatif kecil bila dibandingkan Batam ataupun Bintan. Setahu saya di sini cuma ada 1 SPBU Pertamina dan 1 SPBU swasta yang sering disebut Kuda Laut (???). Jadi kalau di Karimun pemandangan kios-kios BBM mini bertebaran sepanjang jalan itu hal yang lumrah. Mungkin hampir tiap 50 meter kita bisa menemukan kios-kios BBM ini.

Kemarin pagi saya memang berangkat dengan "cadangan" bensin yang mepet di tanki motor. Harapan saya, nanti bisa beli bensin di salah satu kios BBM yang ada di sepanjang jalan waktu berangkat kerja. Berangkat seperti biasa, sepanjang jalan saya melihat semua kios-kios BBM tutup alias kehabisan bensin. Mulai dari Teluk Air hingga PN terus ke lokasi perusahaan di Pangke saya tidak menemukan satu pun kios yang menjual bensin.

Motor saya sekarat sebelum sampai di PT (sesuai prediksi) dan akhirnya persis di dekat bandara PN motor saya mulai ngadat. Motor tetap jalan meskipun dengan bensin campur (campur dorong maksudnya, hehehehe). Sampai di depan lapangan bola, ada satu kios yang melayani pembeli bensin. Hati dah bahagia, penderitaan bakalan terhenti. Ternyata bensin tadi adalah botol terakhir yang tersisa an sudah keduluan orang pula. Hahahahaha.

Dengan memasang muka memelas, saya sukses membujuk Ibu2 penjual bensin untuk menguras cadangan bensinnya. Betul-betul menguras karena drum bensin punya beliau ditunggingkan dan saya cuma mendapat bensin kira-kira 1 gelas. Cukup untuk sampe PT ini, pikir saya. Dan memang cukup tapi akibatnya saat pulang motor sudah tidak bisa dinyalain lagi.

Motor saya tinggal, pulangnya nebeng kawan. Nasib yang kita alami pun sama. Dari jalur Pangke-Meral-Balai tak ada satupun kios BBM yang buka. Beruntung bensin masih cukup sampai dirumah. Malam harinya saya berburu bensin (dengan jalan kaki tentunya). Dapat sebuah kios yang katanya punya stock bensin (atau dia nimbun ya??). Sampai di kios tersebut saya agak shock juga. Bensin dengan kemasan botol 1 Ltr yang biasanya dijual Rp. 5.000 dia jual dengan harga Rp. 20.000. Jadi berasa tinggal di Natuna atau Lamalera (hahahaha).

Entah kenapa di Karimun bisa kejadian seperti ini. Karena stock terlambat kah? atau premium dibatasi oleh pertamina? atau jangan-jangan ada oknum yang bermain? Apapun ceritanya, inilah kali pertama saya nggak bisa kemana-mana karena bensin nggak ada. Padahal katanya Karimun merupakan kawasan seigita emas BBK yang dijagokan untuk investasi asing. Tapi masalah klasik seperti langkanya BBM masih juga terjadi.

NB: ini kali kedua saya mengalami kelangkaan BBM di Karimun sejak pindah dari Batam 2 bulan lalu.

Update 05 Jul 12: Kemarin sore beli bensin botol kemasan 1.5 Ltr seharga Rp. 14.000,- Alhamdulillah sudah turun.

Rabu, 06 Juni 2012

Saya dan Butawarna

Dah lama banget saya ndak update di blog ini. Mungkin karena kesibukan kerja sehari-hari, tak terasa sudah hampir 3 bulan saya nggak pernah mampir lagi di ini. Untuk kesempatan ini saya pengen ngejunk soal pengalaman pribadi aja lah.

Dulu banyak teman-teman saya yang sering bertanya, "Ngapain jauh-jauh cari kerja di Batam? Apa di Jawa nggak ada kerjaan lagi?" Hehehehehe. Kebetulan saya dulu kuliah di Jurusan Teknik Mesin salah satu PTN di Semarang (UNDIP), yang memang alumninya lebih banyak masuk ke BUMN dan industri manufaktur di bidang otomotif (TAM, Indomobil dll).

Sebenarnya saya pengen juga kerja bareng mereka. Tapi kehendak-Nya berkata lain. Saya dilahirkan dengan cacat mata bawaan yaitu butawarna parsial. Tentu saja saya akan mengalami kesulitan untuk bisa masuk ke perusahaan-perusahaan yang saya sebutkan diatas, karena biasanya seleksi med check-upnya cukup "ketat".

Banyak yang mungkin masih kurang paham dengan "anugerah" yang bernama butawarna parsial ini. Sering teman-teman bertanya, "Kalau gitu berarti dunia serasa hitam putih dong?" Yang biasanya langsung dilanjutkan dengan "mengetes" saya, biasanya sih dengan menanyakan berbagai warna yang ada di sekeliling kami. Hahahahahaha.

Butawarna parsial tidak separah itu. Kami, para penderita butawarna partial, masih bisa membedakan warna-warna yang ada, rumput masih berwarna hijau dan langit pun masih berwarna biru. Pada saat saya kecil saya sama sekali tidak menyadari kalau saya ini butawarna. Karena dulu saya masih bisa merakit peralatan elektronik saat praktikum di SMP, menghitung hambatan di gelang resistor dan juga tidak pernah bertengkar dengan kawan-kawan yang lain soal warna.

Penyakit ini (kalau tidak salah, karena saya orang teknik bukan kedokteran, hahahahaha) disebut juga RGD (Red Green Deficiencies). Jadi dari namanya saja kita bisa menebak kalau penyakit ini lebih erat dengan warna merah dan hijau. Contohnya kalau ada warna dengan latar belakang majoritas warna hijau maka warna merah akan kalah atau sebaliknya.

Tetapi ketika warna ini berdiri sendiri tentu akan lain ceritanya. Karena itu, cacat bawaan ini cuma bisa ditest dengan cara yang saya sebutkan diatas. Biasanya sih menggunakan ICBT (Ishihara Color Blind Test). Saat ditest dengan ICBT, beberapa angka dalam lembar soal test tidak akan kelihatan untuk kami, atau terkadang dari dua digit angka cuma keliatan satu digit saja.

Kembali ke pengalaman saya, saya baru mengetahui kalau saya butawarna pada saat registrasi ulang di perguruan tinggi. Tetapi karena kebijakan PTN saya waktu itu bahwa untuk jurusan yang saya pilih mengijinkan butawarna parsial, akhirnya saya meneruskan kuliah sampai lulus.

Setelah lulus, barulah saya merasakan efek dari cacat bawaan ini, berkali-kali saya interview di perusahaan-perusahaan besar selalu gagal di medical check up dengan alasan butawarna. Padahal biasanya untuk tahapan interview sebagian besar lolos. Itulah sebenarnya alasan terbesar kenapa saya bisa terlempar ke Batam.

Pernahkah saya menyesal mendapat "anugerah" ini? Ya, dulu sekali waktu masih fresh-freshnya lulus dan baru cari kerja. Salah satu perusahaan pertama yang menerima saya adalah sebuah perusahaan manufaktur garment terbesar di Indonesia. Pada saat itu saya telah "diterima", semua proses test dan interview sudah pass.

Di hari terakhir, kebetulan waktu itu hari Sabtu, pihak HRD mengatakan, "selamat Bapak diterima, besok rabu tolong datang lagi untuk sign contract". Senangnya hati, pada saat itu saya mendapat salary yang lumayan besar untuk ukuran di sana. Tetapi sebelum pulang saya diminta mampir ke klinik perusahaan dulu untuk dicheck. Dan akhirnya, gagallah saya join kesana karena butawarna. Sepanjang perjalanan pulang saya kecewa, kesal, marah dsb.

Sejak kejadian tersebut, kegagalan demi kegagalan di proses medical check up terus saya alami. Tapi saya tidak menyesal ataupun kecewa seperti pengalaman yang pertama dulu. Sampai akhirnya saya diterima di salah satu perusahaan shipyard terbesar di Batam (tanpa medical check up tentu saja).

Ternyata di Batam, peluang masih terbuka lebar, experience dan kemampuan lebih dihargai. Dan tentu saja nggak pernah bermasalah dengan butawarna. Alhamdulillah sekarang sudah tahun ke-5 saya di Batam. Bukan di Batam langsung tepatnya karena bulan lalu saya baru join dengan salah satu perusahaan EPC (yang katanya terbesar) di Karimun. Ada test butawarna, tapi entah kenapa kok bisa masuk juga :).

Rabu, 07 Maret 2012

Pengalaman yang sangat bagus

Share cerita dari seseorang yang sangat bagus, beberapa hari lalu diposting di Milis Migas Indonesia.

Bus maut sumber kencono, Karunia bakti dan sekelebatan metro mini di hadapan saya yang lewat tanpa lampu rem mengingatkan pengalaman beberapa tahun lalu ketika diri ini masih jadi pengusaha kelas pinggiran yang penasaran mengapa sebuah Pick Up kecil saya yang di pergunakan sehari hari untuk mengangkut benda ringan macam Styrofoam harus menjalani uji petik atau KIR dengan biaya yang semestinya tertera Rp 48 ribu rupiah namun kenyataannya supir saya selalu meminta uang sejumlah Rp 160 ribu untuk setiap enam bulan uji KIR.

Dalam tiga semester uji KIR, menurut aturan, buku KIR sudah harus diganti dan saya berkeinginan untuk mengurusnya sendiri tanpa melibatkan supir. Bukannya tak percaya pada supir saya sendiri tapi keingin tahuan kenaikan jumlah biaya hingga empat ratus persen itu dari mana asalnya.

Kamis pagi, Kantor uji KIR di Jagakarsa pukul Sembilan lambat laun mulai diramaikan oleh beberapa kendaraan yang hendak menguji kelayakan mereka. Saya membawa pick up biru yang saya gunakan sehari-hari untuk usaha toko yang saya beli dari sebuah dealer dalam kondisi baru. Didepan jalan gerbang masuk dua petugas dan satu berpakaian biasa menghampiri dan bertanya.

“ Mobil ini siapa yang bawa?” Tanya petugas berkumis tebal.

“ Loh..memangnya saya nggak kelihatan, mobil ini kan saya yang kendarai!” jawab saya polos sambil tersenyum.

“ Maksudnya mobil ini biasa KIR sama siapa, siapa yang bawa, Nitipnya sama siapa?” si petugas menukas dengan nada meninggi.

“ Saya bilang saya manusia yang kelihatan, ini mobil saya yang bawa, mau uji KIR,” jawab saya tenang.

“ Jadi mau urus sendiri?” Dia bertanya, saya mengangguk yang diikuti dengan suara tertawa terbahak bahak , sambil dirinya meninggalkan saya.

“Tunggu aja sampai seminggu pak, baru beres..,” Ia membalik badan ketika beberapa langkah meninggalkan pick up saya, sambil terus tertawa.

“ Nggak apa apa , sebulan saya juga tunggu kok , saya lagi banyak waktu,”sahut saya padanya lalu saya lajukan mobil memasuki gerbang dengan loket disisi kanan.

Untuk biaya masuk, tarif tiga ribu rupiah berubah menjadi lima ribu rupiah sesuai permintaan petugas loket tanpa kembalian, It’s Ok lah, mungkin yang di gardu butuh merokok atau kopi pagi.

Sampai di dalam urutan lajur pengujian KIR mobil saya dihentikan dan kembali ditanyakan siapa yang akan membawa mobil. Dengan jawaban persis sama dengan sewaktu diluar, dahi petugas ini berkernyit tak yakin, kemudian bergegas ia menyambar buku KIR saya dan menyatakan bahwa buku KIR saya harus diganti baru dengan jumlah biaya yang disebutkan olehnya sebesar delapan puluh ribu rupiah dibayar dikantor setelah KIR.

Dibalik punggungnya saya membaca tulisan besar di dinding ruang Uji petik “ BUKU KIR TIDAK DIPUNGUT BIAYA”. Suatu paradoks pertama di pagi hari yang saya temui.

Ia menghilang dari hadapan saya dengan membawa buku KIR yang sudah harus diganti baru. “ Nanti urus didalam pak!” itu kalimat terakhirnya sebelum ia menghilang ke dalam kantor.

Lorong pengujian terhampar didepan saya hanya berisi satu mobil , sebuah pick up hitam sejenis yang melaju hanya dalam hitungan masing-masing di bawah dua menit dalam setiap perhentian. Diperhentian pertama adalah tempat lampu-lampu serta berbagai atribut keselamatan kendaraan di uji apakah berfungsi. Ada satu petugas berdiri di damping alat uji yang tanpa melihat kekendaraan hanya mengisi formulir dan menanda tanganinya untuk kemudian mempersilahkan pick up hitam di depan saya itu melaju ke pos uji berikutnya untuk melanjutkan ke pos pengecekan ban, fungsi rem dan fungsi mekanis lainnya. Kurang dari dua menit pick up itu kembali melaju dan mendapatkan form bertanda tangan tanpa perlu menginjak apalagi menguji rem di pos tersebut. Singkat, hemat waktu dan tak perlu antri panjang, sebuah efisiensi dalam tanda Tanya.

Kendaraan saya diminta maju ke pos pertama dan disana saya hentikan pick up saya dengan perlahan lalu menyalakan semua lampu mulai dari lampu utama, sign,lampu kabin, lampu malam menginjak rem dan sebagainya tanpa diminta. Tak sedetikpun wajah petugas menoleh ke pick up saya dan tak lama ia menyodorkan lembar kertas berisi tanda tangan tanda lolos uji seraya meminta uang lima belas ribu rupiah dan mempersilahkan jalan.

“ Untuk apa pak?” Tanya saya.

Ia terkejut lalu menarik kembali kertas tersebut.

“Memang harus begitu, bayar lima belas ribu!” tukasnya

“ Mobil saya belum di uji atau dilihat pak, kok saya harus bayar?”

“ Sudah lolos, bayar saja..banyak yang nunggu!” ia berusaha mempersingkat percakapan namun keukekuh menanti lembaran rupiah.

“Ok, ini saya bayar tapi mohon kuitansinya pak!” pinta saya.

“ Nggak ada , mau anda apa sih?” tanyanya

“ Mau uji KIR!” “ Jadi mau ditest betulan?”

“ Ya iya, saya jauh datang kesini untuk pastikan mobil saya di uji,” jawab saya.

“ Kalau nggak lulus tahu sendiri ya, di kasih yang gampang malah cari susah!” jawaban aneh bagi saya ketika itu yang terucap dari seorang petugas Negara yang bertanggung jawab memastikan kendaraan saya membahayakan atau tidak untuk orang lain di jalan raya sana.

Ia berteriak ke beberapa orang di lajur berikutnya.

“ Hoooi,… ini orang mau di uji mobilnya, test yang komplit jangan ada yang lewat!” Perintahnya pada beberapa orang yang semula hanya duduk membaca Koran.

Satu persatu bagian mobil diperiksa oleh mereka, hanya saja mungkin tak seteliti dealer resmi mobil yang sehari sebelumnya saya kunjungi untuk memastikan semua fungsi kendaraan saya dalam kondisi yang prima. Saya tak pernah melewatkan waktu pengecekan berkala ke bengkel resmi meski itu hanya untuk sebuah Pick up untuk usaha.

Tak ada satupun kekurangan yang bisa mereka temukan hingga si petugas pemegang kertas menghampiri saya dan tetap meminta uang untuk menyatakan mobil saya lolos uji.

“ Saya bayar semua kan nanti di loket pak, disini tertulis tidak ada pungutan apapun selama mobil di uji!” ucap saya.

Kertas dilempar ke dashboard dan mobil saya di tepuk untuk lekas pergi, bagai mengusir seekor ayam ia bersungut sungut sambil meneriakkan kepada petugas di pos setelahnya bahwa saya tak mau bayar dan minta di uji.

Di pos kedua setali tiga uang, petugas tak berkeinginan memeriksa mobil saya berikut rem dan lainnya. Selembar kertas berharga lima belas ribu rupiah ia sodorkan untuk lolos dari posnya. Saya menggeleng, tak sudi membayar kecuali di beri kuitansi.Ia naik pitam dan menendang ban mobil saya untuk kemudian mengusir semau hatinya. Kertas dilemparkan ke belakang bak mobil saya. Aneh! Saya pun melaju tak memperdulikannya karena tak ada perintah untuk injak gas atau rem sebagai proses pengujian, dan ketika diujung lorong saya diminta untuk turun dan memarkir kendaraan lalu menyerahkan kunci kepada seseorang disana.

Saya diajak kedalam ruangan kecil dan diminta membayar sejumlah delapan puluh ribu rupiah untuk sebuah buku baru yang akan dicetak. Tak terbayang apakah mereka ini bisa membaca atau tidak karena di hampir semua sudut terpampang tulisan bahwa perpanjangan buku KIR tidak dikenakan biaya. Sebuah paradoks ke sekian kali yang saya temukan pagi itu.

Petugas loket marah bukan kepalang ketika saya meminta kuitansi untuk pembayaran tersebut dan ia menghardik saya dengan tuduhan tidak mau bekerja sama dan tidak menghormati institusi mereka disana. Ia menanyakan instansi saya bekerja dan maunya apa. Saya hanya tersenyum dan menjawab bahwa saya adalah pedagang biasa, pemilik asli pick up yang tengah diuji dan hanya meminta kuitansi. “ Yang mana yang tidak saya hormati?” Tanya saya tegas dan tak mampu dijawab olehnya. Bagai seorang tahanan saya digelandang ke kantor kepala, di tatapi oleh beberapa pria gagah menyandang pangkat mirip taruna tentara di bahu kiri dan kanan dalam ruang kantor. Buku KIR di geletakkan di meja kepala kantor dan saya melihat disana dua pria yang juga gagah dengan seragam asyik berbincang sambil merokok. Saya diminta menunggu diluar sampai kemudian dihampiri oleh seorang wanita muda yang tengah hamil tua untuk kemudian ia meminta saya membayar uang sejumlah delapan puluh ribu rupiah.

“Tanpa kuitansi, saya tidak akan membayar …. dengan kuitansi ,satu jutapun akan saya bayar, lagi pula mobil saya tak diperiksa apa apa!” tegas saya padanya.

Ia dengan perut yang bulat besar mundur dan meminta ijin pada saya untuk menanyakan kepada kepala kantor untuk sebuah kuitansi. Sepuluh menit kemudian ia kembali kehadapan saya dan berkata bahwa kuitansi akan dibuatkan oleh kepala kantor.

“ Baik ,saya menunggu disini mbak,” ujar saya ramah.

Satu jam saya menunggu dan hanya menyaksikan dua orang berbicara dengan rokok yang tiada henti. beberapa buku KIR mobil lain menyusul kembali bertumpuk di atas buku KIR saya. Lelah menunggu tanpa kepastian saya menghampiri si wanita hamil untuk bertanya tentang nasib buku KIR saya. dan ia menjawab bahwa kepala kantor sedang sibuk.

Saya ketuk ruangan pak Kepala yang tak terkunci dan memotong pembicaraan dua orang yang merokok tanpa henti sejak sejam yang lalu. Lalu saya meminta untuk mereka memproses buku KIR saya. Mereka sedikit terkejut dan segera mengambil buku KIR paling bawah. Sibuk untuk menunda memproses buku KIR bukan alasan bagi saya karena satu jam setengah saya melihat mereka hanya merokok dan berbicara. Buku diserahkan kepada staffnya yang hamil sambil berbisik, ia berjalan didepan saya tanpa menoleh.Tak lama sang wanita hamil menghampiri dan meminta saya untuk membayar berapa saja karena kuitansi tidak bisa diberikan. Saya keluarkan uang lima puluh ribu rupiah dan menyodorkan kepadanya.

“ Mbak yang baik , ini saya rela memberi pada mbak , untuk kesehatan bayi dalam kandungan mbak, silahkan dibelikan susu dan segala makanan yang halal yang bisa mbak berikan padanya,nanti jika lahir karena saya tidak ingin anak mbak memakan hal yang haram dalam proses semua ini. Saya ikhlas untuk kebaikan anak dalam kandungan mbak…!” saya berkata pelan.

Ia menangis, saya panik dan tak menyangka reaksinya demikian, beberapa staff menghampiri dan bertanya, hanya untungnya si wanita hamil ini tak mengadu apapun pada mereka. Ia bergegas masuk keruang kepala dan muncul lima menit kemudian sambil membawa buku KIR saya.

“ Bapak diminta menunggu di luar depan loket, pak kepala bertanya bapak dari instansi mana..?” ia bertanya tanpa berani lama-lama menatap wajah saya.

“ Saya hanya pengusaha kecil , yang perduli dengan usaha saya dan juga peduli dengan korupsi yang merajalela !” jawab saya. Ia mempersilahkan saya keluar dan menunggu didepan loket, sebelumnya saya tetap menyodorkan uang selembar lima puluh ribu rupiah untuk anak dalam kandungannya, Meski terpaksa ia menerima uang itu karena saya nyatakan ikhlas untuk memberinya, bukan untuk proses mendapatkan buku KIR baru.

“Doakan anak saya yang baik ya pak!” ia meminta hal itu ketika menerima uang dari saya.

Didepan loket diluar, hanya dalam hitungan dibawah sepuluh menit nama saya dipanggil dan dengan baik mereka memberikan buku KIR baru , kunci mobil dan mengarahkan saya untuk menuju pengecatan tanda KIR sambil sebelumnya saya membayar biaya KIR sebesar empat puluh delapan ribu rupiah, DENGAN KUITANSI. Kakek tua mendampingi saya untuk mengecat tanda KIR, tangannya yang sudah gemetar menempelkan kertas sablon dan menghembuskan cat semprot dari tangannya untuk memberikan tanda bahwa mobil saya “syah” telah diuji KIR sampai enam bulan kedepan.

Uang lima puluh ribu rupiah kembali saya selipkan ke dekapan tangannya dengan keikhlasan tanpa minta kuitansi.

“Untuk cucu ya pak!” ujar saya ketika menyerahkan lembaran uang berwarna biru.

Ia senang bukan kepalang dan mengantar saya meninggalkan gerbang fasilitas uji KIR Negara Jagakarsa. Uang dari kantong saya tetap keluar sebesar seratus enam puluh ribu rupiah, bukan untuk proses KIR saja namun untuk sedekah pada orang orang kecil yang tengah hamil dan renta yang terjebak dalam gelapnya lorong proses pengujian kendaraan yang tak tahu fungsinya untuk apa.

Begitu keluar, saya disambut asap tebal sebuah kopaja yang melintas di trayek depan kantor uji KIR dengan rem yang berderit derit menjemput penumpang. Saya ngilu mendengar dan menatapnya, untuk Bis bukan di Jagakarsa pengujiannya, konon di tempat lain di timur Jakarta, namun hasilnya rasanya sama saja.

“Lorong gelap uji KIR”, Apakah itu penyebab ratusan orang tak bersalah meregang nyawa dijalan-jalan negeri akhir-akhir ini ?, saya tak mengerti karena saya hanya menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana proses pengujian yang saya alami dulu sekian tahun lamanya di tempat yang mestinya menjaga keselamatan seluruh anak bangsa dari bahaya kendaraan yang tak laik jalan.